actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»SENI BUDAYA»Tionghoa dan Sepak bola
SENI BUDAYA

Tionghoa dan Sepak bola

redaksiBy redaksi12 Februari 2010
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola tahun 1915-1942
oleh: R.N Bayu Aji
> Politik & Hukum » Sosial & Politik

Penerbit : Ombak (K)
Edisi : Soft Cover
Tgl Penerbitan : 2010-01-19
Bahasa : Indonesia


Tionghoa dan Sepak bola

Tak banyak orang yang tahu, pada tahun 1938 Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda pernah mengikuti Piala dunia di Prancis. Fakta yang menarik, mengingat setelah kemerdekaan, 17 Agustus 1945, kesebelasan Indonesia tak pernah sekali pun berlaga di ajang sepak bola paling bergengsi didunia itu.

Namun, saat akan mengikuti Piala Dunia di Prancis sempat terjadi ketegangan antara NIVB (Persatuan Sepakbola Hindia Belanda) dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) terkait nama tim nasional. PSSI meminta agar nama timnas yang ikut Piala Dunia adalah Indonesia. Sedangkan NIVB meminta nama Nederlandsch-Indie alias Hindia Belanda alias Dutch East Indies.

FIFA kemudian mengakui nama Nederlansch-Indie dan PSSI menarik diri dari timnas. Nah, peran inilah yang kemudian diisi oleh komunitas Tionghoa untuk ikut pertama kali memperkuat timnas. Pemain Tionghoa Surabaya yang ikut Piala Dunia adalah Tan Mo Heng alias Bing (kiper) dan Tan Hong Djien (striker). Satu pemain lagi dari Surabaya adalah Tan See Han.

Memasuki bergantinya Orde Lama ke Orde Baru, paradoks terjadi pada ranah sepak bola khususnya bagi kalangan Tionghoa di Surabaya. Tidak ada lagi nama-nama tenar mewarnai sepak bola lokal maupun nasional dari orang Tionghoa. Seakan-akan orang Tionghoa menghilang begitu saja dari ranah sepak bola.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, rasialisme yang terjadi di masyarakat. Seringkali pemain sepak bola Tionghoa diteriaki China oleh suporter.
Kedua, perbedaan antara pribumi dan non-pribumi kerap masih dirasakan dalam kehidupan. Sehingga, ketika terjadi kerusuhan dalam sepak bola bisa bergeser pada sentimen ras. Kentalnya sentimen ras pasti menggangu kondisi psikis seseorang.
Ketiga, pandangan orang Tionghoa yang pragmatis. Bahwa sepak bola tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hidup. Mereka lebih suka beraktualisasi pada wilayah perdagangan saja daripada sepak bola. Selain itu, orang Tionghoa lebih suka menekuni pendidikan dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan ataupun perkantoran.

Belajar dari sejarah, di mana orang-orang Tionghoa berprestasi hebat di sepak bola pada 1930-an, R.N. Bayu Aji mengajak semua pihak untuk ‘mengembalikan’ kejayaan sepak bola Indonesia dengan cara merangkul semua warga negara dari etnis apa saja, termasuk Tionghoa.

“Dan bukan tidak mungkin orang Tionghoa berkiprah lagi dalam sepak bola dan bisa menunjukkan prestasi yang lebih. Bahkan, bisa membawa kejayaan sepak bola Indonesia lagi dan ikut Piala Dunia seperti tahun 1938,” tegas Alumni Departemen Ilmu Sejarah Univ. Airlangga Surabaya ini.
sumber: hurek.blogspot.com, sejarahtakberubah.blogspot.com. (N: Lyna C.)

Mahasiswa Pers Surabaya
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik

14 November 2025

Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”

12 November 2025

Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital

5 Juli 2025

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.