Monolog Pandemi, Berkesenian Sambil Peduli

Salah satu adegan dalam drama monolog “Pandemi” yang akan berlangsung secara live streaming di akun Instagram @komunitas.master dan @teater_lingkar, Rabu (22/4) pukul 19.30 WIB.

Actasurya.com – Semakin meluasnya kasus pandemi Covid-19 disertai dengan kondisi ekonomi, hingga kebijakan pemeritah di masa karantina ini, mendasari Komunitas MASTER (Masih Suka Berteater) untuk menyuguhkan pementasan drama monolog “Pandemi” melalui live streaming Instagram @komunitas.master dan @teater_lingkar pada Rabu (22/4).

Pentas drama dengan menerapkan protokol Covid-19 termasuk social dan physical distancing ini, akan dimulai pukul 19.30 WIB. Pertunjukan Monolog tersebut sebenarnya sebagai bentuk evaluasi dan kritik tentang kegagapan dunia menyikapi Pandemi.

“Kegagapan penanganan Pandemi ini juga terjadi di Indonesia. Sejak awal Covid 19 ini dianggap lelucon oleh para pemimpin bangsa ini, walau sudah diingatkan WHO berulang kali. Saat menyebar dan mewabah, pemerintah menjadi gagap dalam penanganannya,” ujar penulis naskah Pandemi, M. Afrizal Akbar, Selasa (21/4).

Terkait rasa kemanusiaan, Monolog Pandemi kali ini, ingin megantarkan pesan adanya kekuatan dari gotongroyong masyarakat, peduli sesama, hingga ciptakan lumbung pangan mandiri tanpa sentuhan pemerintah. Lakon ditampilkan oleh seorang aktor yang diperankan Gegeh B. Setiadi dibantu tim kreatif dan produksi dari gabungan Teater Lingkar (Stikosa-AWS) dan Teater Geo (Universitas PGRI Adi Buana).

Senada dengan Afrizal, Gegeh menyebut bahwa monolog berjudul Pandemi ini sebagai upaya mempertahankan kreativitas.
“Ini adalah bagian dari upaya kami mempertahankan kreativitas dalam berkesenian. Di saat semua harus berhenti dengan social distancing, di tengah pandemi Covid-19, lakon Pandemi hadir. Lakon ini bercerita tentang kegagapan negara ketika terjadi pandemi Covid-19,” kata Gegeh.

Selaku Sutradara, Ryan Herdiansyah mengatakan bahwa pentas drama ini memaksa dirinya untuk masuk ke dalam dimensi imajinernya. “Mulai dari kondisi latar ruang, tokoh, sudut pandang, perasaan dan nuansa. Proses penyutradaraan naskah ini rasanya sangat intim, sangat dekat dan rasa takut, amarah, sedih, kecewa yang dirasakan di naskah ini juga saya rasakan di kehidupan nyata,” ceritanya.

Selain sebagai hiburan dan cermin kemanusiaan. Namun pementasan kali ini, juga sebagai media penyalur bantuan untuk korban pandemi Covid-19 yang saat ini tengah bertahan di kondisi kian sulit ini.
“Kami juga membuka donasi untuk korban Pandemi Covid 19 sebelum dan saat pertunjukan digelar. Bantuan donasi itu dapat di transfer melalui rekening BCA 5120255144 a/n Syskaliana atau OVO / Gopay / Link Aja / Dana di nomer 082141597499. Seluruh donasi akan kami sumbangkan bagi korban Covid-19,” pungkas Manajer Produksi, Aditya Poundra. (N: Fir,Qoe)