actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»PUISI»Mereka, Menjatuhkan Diri Lagi
PUISI

Mereka, Menjatuhkan Diri Lagi

redaksiBy redaksi28 Januari 2018
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh: MayaZ 

 

Mereka datang, lagi

Satu-persatu menjatuhkan diri; menanggalkan baju yang dikenakan

Cebar-cebur;  berenang di selokan,

Berselancar di kubangan lumpur,

Menggelitik mesin-mesin yang berjemuran,

Cekikikan di kendaraan yang berjajar rapi,

Berguling-guling di gundukan pasir dan perbukitan,

dan meleburkan diri ke tanah yang dipenuhi gambar ban-ban.

Mereka datang lebih banyak

Satu per satu menambah kecepatan ‘tuk jatuh; sambil berteriak kencang

Menyuarakan kegembiraan, bahwa senja suka berbasah-basahan

Sesekali udara juga saling berkejar-kejaran

meniup kencang  rerumputan di pinggir pagar,

Dahan pohon di seberang jalan,

Kain lusuh yang dijemur dekat kubangan,

dan dua kaca jendela melukis garis tak beraturan.

 

Mereka, beramai-ramai kemari

Hampir satu jam, menghalangi pandangan perempuan di dalam ruangan

 

Mojokerto, 22 Januari 2018

 

Bisumu

Hari ini aku menanyakan kabarmu

Sang empat bulan tanpa rupa

Bisu

Bisu yang membuat kepala bergeleng-geleng

Bisu yang menyayat-nyayat tubuh berbaju

Bisu yang mengocak isi perut

Bisu yang mengoyak isi rongga dada

Duh!

Hari ini aku menanyakan kabarmu!

Aku, menggelepar-gelepar

 

Mojokerto, 25 Januari 2018

 

Penulis adalah seorang perempuan pegiat seni teater dan sastra di Surabaya.

puisi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Wabah Mendunia

28 April 2020

Tulangmu Jadi Punggungku

16 April 2019

Karena Waktu , Aku Bisa Mengingat

26 Maret 2019

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.