Menimba Penelitian Ilmu Sejarah di Ruang Koran

Deta, mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga, sedang mencari referensi pada koran lama yang terdapat di Stikosa-AWS untuk tugas akhirnya. Rabu (28/8).

Actasurya.com – Ruang koran yang berisi peninggalan koran bersejarah dengan umur 69 tahunan ini berada di Stikosa-AWS. Berbagai koran tempo dulu itu berasal dari koleksi koran Surabaya Pos sejak tahun 1950, tetapi pada tahun 1999 media Surabaya Pos sudah tidak lagi beroperasi.  

Koleksi koran ini didapat dari pihak Surabaya Pos yang menghibahkan koleksinya untuk dibaca oleh pihak kampus ataupun mahasiswa. 

“Pihak kampus memiliki pendekatan emosional yang baik dengan pihak media Surabaya Pos. Salah satunya dulu pembiayaan memfasilitasi gedung Stikosa-AWS, fasilitas mobil sampai menyerahkan koleksi korannya kepada kita,” ucap Sutrisno petugas perpustakaan. 

Tak hanya koran lama saja, melainkan terdapat buku yang berbahasa belanda. Koran-koran lama ini pun tak jarang dibaca oleh pihak mahasiswa luar terutama mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dari jurusan sejarah. 

“Biasanya mereka kesini untuk membaca atau meneliti koran-koran lama untuk tugas skripsi mereka,” ujarnya. 

Tak hanya mahasiswa Unair saja, tapi mahasiswa dari Jogjakarta bahkan Jakarta pun pernah mengunjungi ruang koran untuk bahan penelitian mereka. 

Mulai tahun 2000 koleksi koran lama ini berada di ruang perpustakaan Stikosa-AWS. Beberapa koran jadul yang paling lama usianya ada Malang Pos, Majalah Tempo, ada Surabaya Pos. 

Petugas perpustakaan pun menceritakan kendala untuk perawatan koran jadul ini pun juga terbilang susah. Karena berbahan dari kertas yang sangat mudah dimakan rayap ataupun bisa memudar tulisannya, sehingga beberapa koleksi koran jadul ini ada yang rusak ataupun sobek karena umurnya berpuluh tahun. 

“Ya ini kita ingin mengajukan kepada pihak kampus untuk mau bekerja sama dengan pihak luar untuk perawatan koran-koran jadul ini, karena sekarang era digital jadi mungkin file-file koran lama ini bisa diarsip di komputer,” ucap pria yang akrab disapa Pak T. 

Dari dulu Pak T sudah beberapa kali mengajukan kepada pihak kampus untuk mendigitalisasikan koran-koran jadul tersebut. 

Selama ini, kampus belum bekerja sama dengan pihak luar untuk melakukan perawatan koran-koran jadul itu.  Sehingga dibuatlah ruangan khusus agar koran tersebut tak mudah rusak dimakan rayab ataupun rusak dijahili tangan mahasiswa. 

Total koran yang ada di ruang koran hingga saat ini ada ratusan koran. Mulai dari tahun 1950-1998 setiap bendel itu terbit setiap satu bulan sekali. Koran-koran jadul ini juga pernah diminta oleh pihak luar karena umur korannya yang sudah lama. 

Sayangnya, pihak kampus tidak memberikannya dengan alasan hubungan emosional dengan pemilik Surabaya Pos ini yaitu Alm Aziz, yang juga mendirikan Masjid Al-Aziz di Stikosa-AWS.

“Semoga koleksi koran-koran jadul ini yang nilainya sangat mahal, semoga bisa terwujud dengan cara mengarsip file-file koran jadul biar tidak cepat rusak,” harapnya. 

Sementara itu, Deta, salah satu pembaca koran jadul di ruang perpustakaan ini yang merupakan mahasiswa Unair Jurusan Ilmu Sejarah yang sedang meneliti tentang sejarah media di tahun belanda sampai kemerdekaan. Ia sampai meneliti di museum pers di solo untuk di Surabaya hanya menemukan koran terlama di AWS saja. 

“Dengan adanya koran-koran lama yang ada di Stikosa sangat membantu kita terutama di jurusan sejarah yang meneliti tentang sejarah tempo dulu, jadi untuk mencari bahan tugas enggak seberapa sulit. Karena di ruang perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koran koran nya,” tutupnya. (N/F: Alf)