Dambaan Menjadi Wartawan

Actasurya.com – Kesempatan untuk berkuliah serta belajar di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta merupakan impian banyak orang. Seperti Maksimus Sirmbu Syufi salah satu murid SMA Katolik Villanova asal Manokwari, Papua Barat yang memilih melanjutkan pendidikannya di Kota Pahlawan.

Lelaki yang hobi menulis sejak SMA ini, menceritakan segala pengalamanya ketika memilih untuk meninggalkan kota kelahirannya dan memilih berdomisili di Surabaya. Kegigihannya dalam mewujudkan cita-cita, membuat Maksimus Sirmbu Syufi atau lebih akrab dipanggil dengan Maksimus, yakni menjadi seorang wartawan.

Setelah ia menyelesaikan bidang studinya ditingkat SMA di Manokwari, Maksimus mencoba untuk mencari berbagai informasi mengenai perguruan tinggi yang berbasis ilmu komunikasi. Keinginannya pun semakin kuat, setelah menemukan kampus komunikasi di Surabaya, yaitu Stikosa-AWS sebagai tempat menimba ilmu serta wadah untuk pengantar cita-citanya.

“Saat mendekati ujian akhir , saat itu aku coba cari-cari sekolah wartawan aku mencari di internet, dan ternyata yang keluar kali pertama itu ya ini Stikosa-AWS di Surabaya, ya sudah aku pilih di Surabaya dari pada Jakarta karna yang kali pertama keluar di internet ya Surabaya ini, “ cerita Maksimus.

Selain itu, lelaki asal Manokwari tersebut memilih konsentrasi Jurnalistik yang akan ia dalami ilmunya di Stikosa-AWS. Meski terbilang sangat jauh jaraknya, tetapi tidak menyurutkan keinginannya untuk menjadi seorang wartawan.
“Karena menurut saya ini salah satu kampus lebih fokus ke ilmu jurnalistik, kan beda dengan kampus lainnya memang ada ilmu komunikasinya cuman, kan itu luas jadi tidak terfokus begitu,” jelasnya.
Meski harus menuntut ilmu hingga ke negeri orang lain sekalipun.

Menurutnya, wartawan merupakan sosok yang di idolakan, dan ia kagumi karena mampu menyebarkan informasi yang baik serta benar
“Sosok wartawan bagi saya sumber informasi, wartawan itu menyuarakan kebenaran, yang salah di salahkan yang benar dibenarkan,” kata Maksimus.

Keinginannya pun semakin kuat dan membuat ia bersemangat untuk menggapai impiannya saat mengetahui kakak sepupunya mantan wartawan kompas. Cita-cita mulia Maksimus sangat diberi dukungan oleh keluarganya dan ia sangat diharuskan menjadi seorang wartawan.
“Kakak sepupuku itu mantan wartawan kompas, terus ia rekomendasikan aku untuk harus jadi wartawan dan lagi pula keluarga saya sangat mendukung,” jelasnya.

Sementara itu, ketertarikannya di dunia jurnalistik diawali sejak SMA kelas dua memasuki kelas tiga, melalui aktif menulis di koran-koran lokal dan media online ia sering menulis artikel dan tak sedikit koran yang menerbitkan tulisannya.
“Waktu SMA saya aktif tulis di koran di media online, biasa nulis artikel sudah empat kali terbit di koran lokal,” kata dia.

Selama di Surabaya ia tinggal di kos wilayah Medokan Semampir gang lima. Meski terbilang Maksimus bukanlah orang yang berasal dari Surabaya, namun ia tetap berusaha untuk menyamakan dirinya pada lingkungan barunya.

Ia juga sempat menceritakan bagaimana awal beradaptasi dengan lingkungan Surabaya. Maksimus sempat merasa sangat kaku dan canggung saat memulai pertemanan dengan teman barunya.
“Aku masih merasa canggung, kadang gara-gara dialekku yang masih terus terbawa membuat aku semakin canggung. Akhirnya aku sempat merasa tidak berani. Kalau ada apa-apa ya, cuma ngechat saja,” lanjutnya.

Ia juga berharap, setelah resmi menjadi mahasiswa baru di Stikosa-AWS dapat dengan sungguh-sungguh menimba dan menerapkan ilmu komunikasi, khususnya jurnalistik.

“Bisa belajar menjadi seorang komunikator yang baik harapan lebih baik dari sekarang dan bisa meningkatkan karier saya di dunia Jurnalistik,” harapnya. (N/F: Cla)