Hiliyah, Pedagang Kecil di Tengah Corona

Hilliyah (17) mengasuh adiknya sembari berjualan gorengan di sekitar kawasan Tanah Merah, Surabaya. Ia mengaku penjualannya menurun semenjak ada pandemi covid-19.

Actasurya.com – Awal Maret, saat Covid-19 atau yang biasa dikenal virus corona ini melanda Indonesia, tak lama pemerintah membuat kebijakan, yaitu adanya pemberlakuan Social maupun Physical Distancing yang berdampak pada perekonomian masyarakat.

Terlebih kini, himbauan tersebut kian gencar, saat adanya status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota, membuat masyarakat terpaksa, lebih sering beraktivitas di rumah saja.

Hal ini juga dirasakan oleh Hiliyah, pedagang gorengan dan jajanan pasar di daerah Tanah Merah Utara, Surabaya. Ia mengaku sekarang penghasilannya menurun, karena dampak dari kejadian ini yang mengakibatkan berkurangnya jumlah pembeli.

Akhirnya, perempuan yang biasa disapa Liya ini. Mensiasatinya dengan memindahkan lapak jualan yang semula di depan rumahnya ke depan gang.

“Karena gang saya di lockdown jadi tidak bisa masuk selain warga, jadi untuk mempermudah akses pembeli, saya akhirnya memindahkan lapak ke depan gang,” ujar perempuan kelahiran 2003 ini.

Meski omset yang didapatnya menurun hingga 50 persen dari hari biasa. Tak menjadi penghalang untuk Liya tetap berjualan di tengah pandemi, demi menambah pundi-pundi rejeki.

Tak hanya itu, jam berjualan pun makin terbatas. Semula bisa buka pagi, hingga malam. Namun kini, hanya bisa berjualan dari pukul 05.30-11.00 WIB

Liya juga bercerita, bila setiap hari minggu lingkungan rumahnya rutin melakukan penyemprotan disinfektan. Sehingga ketika ada mobil bak melintas, dengan sigap ia menutupi dagangnya.

“Ketika berjualan pernah terkena semprot disinfektan dan saya menutupi dagangan dengan kain,”cerita anak pertama dari empat bersaudara ini. Terkadang, juga ada pembeli yang meragukan kebersihan dagangannya.

“Padahal gorengannya sudah saya ditutup oleh plastik, kemudian karena masih panas jadi berembun,” imbuhnya.

Liya yang sekarang duduk di kelas satu Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), Surabaya ini, bahkan telah berjualan sejak kelas 6 SD. Hal itu membuatnya terbiasa membagi waktu antara belajar dan berjualan, sembari menjaga adiknya yang saat ini masih berusia delapan bulan.

Atas kejadian ini, Liya berharap agar Covid-19 segera berakhir. Mengingat menjelang bulan Ramadhan, merupakan masa bagi pedagang dapat meraup rejeki lebih.

“Saya harap kejadian ini segera berakhir dan bisa kembali seperti semula semuanya,” tutupnya.(N/F:Frd)