Mengais Berkah dari Gundukan Sampah

actasurya.com – Parasnya yang menghitam sebab terlampau sering terpapar sinar matahari, nampak kelelahan. Mengenakan baju kampanye salah satu partai, ia melakoni aktivitasnya. Dengan cekatan, ia memilah sampah menggunakan jemari yang terlindungi sarung tangan bolong-bolong di beberapa ruas.

Makin siang, panasnya sang surya kian menyengat. Bercampur dengan bau sampah yang jauh dari kata sedap, tak sejengkalpun mendorong langkah Riskiana mundur. Usia yang hampir menginjak setengah abad, tak jua berhasil membuat geraknya melambat.

Satu persatu dari gundukan sampah yang berserakan, dipilahnya menjadi beberapa bagian. Yakni sampah plastik, sampah kertas, hingga botol bekas air mineral. Bertemankan jutaan lalat hingga belatung, ia menjalani profesinya sejak fajar menyongsong hingga senja karam di ufuk barat.

Pekerjaan ini baru ia tekuni selama 4 tahun. Himpitan ekonomi di sebuah desa kecil perbatasan antara Situbondo dan Bondowoso, membawanya hijrah ke Kota Pahlawan. Menghimpun jarak berpuluh kilometer, dan rela meninggalkan buah hatinya pun juga ia  lakoni demi menyambung hidup keluarga.

Sejak kematian suaminya tujuh tahun silam, Riskiana berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya. Dimana saat itu, ia juga harus menjadi tulang punggung demi membayar biaya sekolah yang melangit. “Suami saya meninggal pada 2009 lalu, waktu itu anak-anak masih pada sekolah,” ujar janda tiga orang putri ini.

Sebelum menjadi pemilah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Keputih, Riskiana juga pernah menjadi petani di kampung halamannya. Namun, kebutuhan pangan yang makin tinggi, membuatnya harus membulatkan tekat untuk bekerja di Surabaya. “Selagi masih bisa kerja, ya kerja dulu. Ntar kalo anak-anak sudah semua ya pulang. Disini kan cuma berusaha,” tuturnya.

Perjalanan hidup memang tak selamanya lurus, mau tak mau, banyak jalan berkelok yang harus ditempuh demi mencapai tujuan. Pada dasarnya, manusia harus sadar, bahwa hidup tak menyisakan seorang pun hanya untuk duduk diam dan menonton opera Tuhan. Namun, hidup memaksa setiap orang untuk terjun, menyelam, pun juga berbasah-basahan mengarungi dalamnya samudera takdir. (N/F: Hilda)