actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»PROFILE»Mempunyai 99 Nyawa di Atas Panggung
PROFILE

Mempunyai 99 Nyawa di Atas Panggung

redaksiBy redaksi3 Desember 2015
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

 

actasurya.com – Dari berteater, ia temukan kebulatan tekad dan kemerdekaan. Seorang ibu sekaligus seniman yang meracak hidup di alam kebebasan. Mengembangkan sebuah tradisi menjadi emansipasi perempuan. Itulah Ndindy Indijati,  perempuan yang terlahir di tengah kemapanan keluarga. Sang bapak, anggota DPR kala itu, tak membuatnya lalai dalam menentukan pilihan hidupnya.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini, mulai menyelami dunia seni sejak duduk di bangku SMU, khususnya seni teater. Meski diakui, kegiatan yang ia geluti tidak mendapatkan restu sepenuhnya dari keluarga. Namun dengan idealis yang melekat dalam benaknya. ia putuskan untuk tetap berada di jalur seni.

Rintangan silih berganti, beberapa prahara masuk dalam hidupnya  tak menyurutkan gairah dalam berkesenian. Bahkan diakuinya beberapa kali saat pentas, kedua kakaknya pun tidak beritikad untuk menontonnya. Karena itulah ia semakin terpacu dalam mewujudkan impiannya. Alhasil, Ndindy sering memenangkan berbagai kompetisi seni tingkat Surabaya dan  Jawa Timur.

Perempuan kelahiran Banyuwangi, 25 Juni 1959 mengaku, bakat alami yang dimiliki adalah anugrah yang diberikan Tuhan untuknya . “Saya merasa memiliki 99 nyawa ketika berada di panggung, saya bebas mengeksploer diri dan menikmati hidup ini,” pungkasnya. Hal  itu terbukti dari beberapa kali ia pentas.

Hingga pada suatu titik di usianya ke 27, perempuan yang pernah menjabat sebagai Ketua BMS (Bengkel Muda Surabaya) ini mengakhiri masa lajangnya menuju pelaminan dengan  seorang dokter sekaligus politikus dan penikmat seni bernama Zulkifli. Dari hasil pernikahannya, dikaruniai tiga orang putri. Namun di tengah perjalanan rumah tangga yang hiruk pikuk, keduanya memutuskan tak saling bersama lagi.

Di situlah tradisi perempuan berkembang menjadi emansipasi. Peran Ndindy dalam memperjuangkan hidup dipertaruhkan. Ibu sekaligus kepala rumah tangga yang mampu membesarkan ketiga putri dengan baik, mengaku mengalami beberapa kesulitan. Terlebih putri sulung bernama Ega mengalami tunawicara. “Tentu, kesulitan ada. Namun kembali lagi, saya hidup dengan ambisi, karena ambisilah saya bertahan dan mampu,” tuturnya sembari tersenyum lega.

Perpisahan dengan sang suami memang terjadi, namun tidak dalam berseni. Di samping membesarkan ketiga putrinya sekaligus membiayai keluarga seorang diri, Ndindy tetap berkarya. Itu terbukti  di tahun 2006-2007, Ndindy tergabung dalam sebuah Bengkel Teater Rendra (BTR) milik sastrawan legenda Ws Rendra yang berada di Depok, Jawa Barat. Bahkan dia pernah mengikuti proses produksi pementasan berjudul “Nyai Ontosoroh”, disutradarai Ken Zuraidah, istri Rendra.

Tak hanya itu, buah dari keberhasilannya pun ia peroleh di tahun 2009-2010  mendapatkan penghargaan dari Gubenur Jawa Timur sebagai aktris terbaik. Dia pun menjabat sebagai Ketua Bengkel Muda Surabaya selama dua periode.

Perjuangan yang ditanamnya sejak muda kini menuai hasil. Di usia setengah abadnya kini ia memiliki pencapaian banyak hal temasuk mendirikan Sanggar Lidi Surabaya beberapa tahun silam. Hidup bersama tiga orang putri, satu menantu dan satu orang cucu sekaligus saudara Sanggar Lidi melengkapi hidupnya.

Biodata Narasumber

Nama                            : Ndindy Indijati

Alamat                          : Wisma Tengger no 27 Surabaya

Tempat kelahiran        : Banyuwangi

Tanggal lahir                : 25 Juni 1959

No tlp                             : 0817-5080-122

Hoby                              : Berteater

Pekerjaan                      :  Pendiri Sanggar Lidi Surabaya.

Prestasi                        : –   Menjadi Ketua Bengkel Muda Surabaya

–   Berteater di Bengkel Teater Ws. Rendra

–  Penghargaan The Best Aktris dari Gubenur Jawa Timur Soekarwo 2009-2010

–  Memenangkan beberapa lomba baca puisi.

 

(N/F: Hening)

 

actasurya.com Mempunyai 99 Nyawa di Atas Panggung profil bu ndindy
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Penuh Perjuangan, Sasa Tetap Optimis Capai Mimpi

13 April 2021

Waldan, Penulis adalah Pengabadian

26 September 2020

Hiliyah, Pedagang Kecil di Tengah Corona

24 April 2020

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.