Mantan Mucikari, Sang Pembawa Perubahan

Segala perubahan dimulai dari hati. Hanya hati yang mampu menggerakkan.

actasurya.com – Begitu ujar Kartono, pria berusia 52 tahun ini. Profesinya menjadi seorang mucikari dimulai sejak tahun 2000 akibat pergaulan bebas. Hidup berkeluarga di tempat lokalisasi dan menjadi seorang mucikari telah dirasakan bapak lima anak orang ini hingga 6 tahun lamanya.

Pada tahun keempatnya menjadi mucikari, Kartono menyaksikan anggota dari PSK ( Pekerja Seks Komersial) meninggal akibat penyakit HIV (Human Immunodeficiency). Di situlah mata dan hatinya seketika terbuka. “Melihat kondisi itu saya kasihan, dan saya tertarik untuk mengikuti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yang menangani pendampingan terhadap para PSK yang sedang sakit HIV. Saya menjadi seorang relawan hingga dua tahun,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Kartono juga mengikuti sebuah program  PUSHAM (Pusat Study HAM) UNAIR dan mendapatkan berbagai ilmu baru mengenai perlindungan anak, KDRT, dan HAM. Setelah mendapatkan bekal pemahaman, pria kelahiran Banyuwangi ini menengok apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

“Dari pengalaman yang saya dapat, dan melihat kejadian di tahun 2004 silam. Saya menyadari apa yang saya lakukan salah di mata agama, dan kemanusiaan,” ungkapnya. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, awalnya, Kartono membuat semacam paguyuban, atau perkumpulan para PSK. Hal ini bertujuan sebagai wadah untuk mereka sharing, juga pemberian pengarahan. Namun ternyata itu dinilai tidak efektif.

“Mbak-mbak PSK setelah mendatangi paguyuban, pulang sudah banyak yang mabok-mabokan, dan besoknya sudah malas datang kembali. Karena di rasa hal itu tidak penting,” katanya. Melihat kondisi tersebut, akhirnya Kartono mengkaji ulang apa yang sudah dilakukan.

Memang sulit rasanya untuk membentuk suatu kesadaran ke PSK hingga menumbuhkan perubahan. Kartono menilik sudut lain, yaitu para anak mereka yang semakin tak terkendali.  Lingkungan yang seharusnya tak diperoleh, pemandangan yang kacau. Disitulah Kartono membangun perlindungan untuk mereka melalui taman baca.

Dalam melakukan proses perubahan, Kartono tak sendiri, dibantu para relawan, juga sebuah LSM pun turut andil. Hingga ia dapat merubah salah satu rumah di kawasan tersebut menjadi sebuah Taman Baca Kawan Kami (TBKK). Kartono yakin bahwa tempat ini akan menjadi tempat yang memiliki solusi untuk menghadapi masa pertumbuhan anak-anak.

Di dalam TBKK, anak-anak diperbolehkan membaca buku apapun yang ia suka. TBKK mendapatkan buku tak hanya dari suatu organisasi saja, namun membuka lebar siapa yang ingin menyumbangkan buku-buku tersebut. “Saya sering berkunjung ke tempat teman, mengamati buku-buku apa saja yang  dimiliki. Kemudian saya bawa pulang,” ungkapnya.

Kartono juga berujar bahwa semua yang ia lakukan ini adalah proses menuju perbaikan. Dan ia mengaku mengenal suatu ‘perbaikan’ itu lewat proses membaca.

Menurutnya, membaca itu alat yang sangat mujarab untuk melakukan perubahan kepada manusia, termasuk karakternya. Dengan membaca pula segala cakrawala terbuka.

Ia mengaku pertama kali menerapkan kebiasaan membaca pada dirinya sendiri. “Dulu saya main perempuan, mabok mbak, judi, dan sebagainya. Setelah saya banyak membaca. Saya tinggalkan itu.” tutupnya. (N/F: Hening/Google.com)

 

Nama                    : Kartono

Alamat                  : Putat Jaya 2A No 36 Kecamatan Sawahan

Tempat lahir       : Banyuwangi

Tanggal lahir       : 26 Agustus 1963