Ketulusan Membantu Sesama

actasurya.com – Setiap manusia pada hakekatnya dilahirkan untuk saling membantu dalam hal apapun, tak mungkin kita hidup di dunia tanpa membutuhkan bantun orang lain. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Latifahtur Rahma,menjadi pengajar di Rumah Singgah “Rumah Kita”, membuatnya terjun langsung dalam mengajar anak-anak penderita kanker.

Awal cerita ia mengajar di rumah singgah, di mulai ketika ibunya sedang menjalani pengobatan di sebuah rumah sakit di Surabaya. Sebelumnya, ia tidak pernah mengetahui bahwa di dekat rumah sakit tempat ibunya menjalani pengobatan terdapat Rumah Singgah.

Pada saat di masa libur kuliah pun, ia juga menerima tawaran temannya untuk mencoba mengajar anak-anak di Rumah Singgah. Syok, itulah kesan pertama saat ia datang untuk kali pertama mengajar. “Pertama aku syok liat anak-anaknya, pengen nangis. Akhirnya full satu minggu aku nggak kesini,” ungkap perempuan yang akrab di sapa Ifa ini.

Setelah satu minggu tak lagi datang untuk mengajar, Ifa akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke rumah singgah. Kini, sudah terhitung satu tahun ia mengajar dan bermain bersama anak-anak penderita kanker.

Tidak ada sedikitpun penyesalan ketika akhirnya ia memutuskan untuk kembali mengajar. Ketulusannya pun tersirat dari cara maupun sikapnya memperlakukan anak-anak penderita kanker. Seperti pada saat ditemui di rumah singgah yang beralamatkan di Jalan Karang Menjangan No.5 ini, ia tampak dengan sabar menyuapi salah satu anak disana.

Ia merasa takut tidak punya banyak waktu lagi untuk mengajar ataupun datang menjenguk anak didiknya, maka dari itu, perempuan kelahiran Surabaya, 22 tahun lalu ini selalu menyempatkan waktunya untuk datang ke rumah singgah. “Saya bener-bener takut ga ada waktu gitu lo mbak, kayak dikejar-kejar terus,” jelas mahasiswa tata boga semester 6 ini.

Sifatnya yang kadang masih kekanak-kanakan membuat ia sangat mudah untuk dekat dengan anak-anak. Menurutnya, anak-anak ini sangat perasa jadi bisa mengetahui seseorang ini tulus atau tidak ketika dekat dengan mereka. Begitu juga sebaliknya, anak – anak penghuni rumah singgah ini pun sudah sangat akrab dengan Ifa. Perempuan berpenampilan sederhana ini biasa datang ke rumah singgah sekitar pukul 13.30 WIB, kegiatannya pun bermacam-macam selain mengajar di rumah singgah ia juga mengajar di rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari rumah singgah tersebut.

Setiap pukul 2 siang, ia berangkat menuju rumah sakit bersama dua teman lainnya untuk mengajar anak-anak penderita kanker yang sedang mendapat perawatan. Kegiatannya tidak jauh berbeda dengan yang ia lakukan pada saat di rumah singgah, belajar juga tetap menjadi tujuan utamanya.

BACA JUGA   Membaca Awal Sebuah Angan

Meskipun keadaan anak-anak ini lemah ketika di rumah sakit,namun rasa ingin terus belajarnya sangat besar. Tidak ada kesulitan yang berarti ketika ia harus mengajar anak-anak penderita kanker ini. Dalam setiap kegiatan mengajarnya, ia selalu memberikan motivasi. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak merasa minder dengan keadaannya.

“Kadang kalau di gambar gitu sering aku tulisin I’m strong, I’m beautiful biar mereka termotivasi,” ujar wanita berkacamata ini.

Mahasiswa salah satu Universitas Negeri di Surabaya ini juga membagi pengalaman-pengalamannya selama mengajar. Ia memaparkan hal yang paling sedih yang pernah dirasakannya adalah ketika harus kehilangan saat ia sudah terlanjur sayang. Hal-hal seperti ini memang sering terjadi, belum lama ini, ia baru saja kehilangan salah satu muridnya bernama Amel.

Rasa sayang yang teramat besar terhadap Amel, meluluh lantahkan rasa takutnya terhadap kamar jenazah, agar dapat mencium jenazah Amel untuk terakhir kalinya. Kedekatan yang terjalin tidak hanya sebatas itu, Ifa mengungkapkan bahwa sesungguhnya bukan hanya mereka saja yang membutuhkan tetapi ia sendiri kadang juga membutuhkan mereka. Melihat tingkah laku anak-anak yang masih polos kadang membuatnya bisa melupakan sejenak kegiatannya di perkuliahan.

Rasa sayang yang teramat mendalam dan rasa sedih ketika harus kehilangan inilah yang membuat ifa memutuskan untuk tidak lagi mengajar di rumah singgah. “Udah seneng, sayang terus tiba-tiba ditinggal gitu,” ungkapnya. Ia juga sempat berusaha mengajar di tempat lain yang tetap berhubungan dengan anak-anak, namun hatinya tidak pernah bisa melupakan anak-anak di rumah singgah.

Keluarga nya pun sangat mendukung kegiatan positifnya ini. tidak ada larangan yang berarti ketika ia harus mengajar di rumah singgah.

Ia juga sempat bercerita bahwa rasa kepedulian kita terhadap sesama sangatlah kurang. Seperti halnya ketika ia menggalang donasi untuk kegiatan amal, masih banyak orang yang akhirnya lebih memikirkan kepentingannya sendiri. Padahal menurutnya dengan kita saling membantu, maka tingkat kebahagiaan kita akan lebih tinggi. (N/F: Galuh)

Data Diri

 

Nama                                    : Latifahtur Rahmah

Tanggal Lahir                      : 25 Februari 1994

Alamat                                  : Kali kepiting jaya 5 no. 32 Surabaya

Pendidikan saat ini            : SI Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Surabaya