Karang yang Menyambut Senja

actasurya.com – Tak ada sosok pria yang hebat tanpa wanita luar  biasa dibelakangnya. Ungkapan ini patut ditujukan kepada wanita berusia 79 tahun ini.  Meski usia tak lagi muda, tetapi semangat baja dan kecerdasan yang tak lekang dimakan waktu itulah yang ditunjukkan saat pertama bertemu.

Thea Susetia Kusumo, wanita yang berasal dari keluarga priayi (sebutan bagi keluarga  pejabat pada era penjajahan belanja). Ayahnya merupakan seorang camat (wedone) pada masa itu. Namun begitu, bukan berarti hidupnya bisa dilalui dengan mudah.

Istri dari Gatot Kusumo Hadi, sutradara Film Surabaya Membara sempat bercerita saat dia harus melarikan diri bersama keluarganya dari Mojosari ke Pasuruan dengan berjalan kaki karena sang ayah menolak jabatan yang lebih tinggi dari pihak Belanda.

Masa kecilnya dihabiskan dengan berpindah tempat tinggal, itu dikarenakan ia dan keluarganya menghindari invasi Belanda yang saat itu sering terjadi. Ditambah dengan permasalahan ayahnya dengan pihak Belanda yang semakin memperburuk keadaan keluarganya.

Kerasnya kehidupan yang dialami oleh Thea tak membuatnya putus asa. Bahkan dengan keadaannya yang seperti itu dapat mencapai berbagai keberhasilan dalam karir serta kehidupannya.

Ia memulai karirnya saat melanjutkan studi ke Yogyakarta. Pada mulanya dia ingin menjadi pengajar SMP seperti teman sejawatnya terdahulu. Untung bagi dirinya yang dianggap kompeten oleh Kepala dan memiliki kualitas untuk menjadi lebih dari seorang guru SMP. Sehingga dia pergi ke Malang untuk menjadi asisten dosen.

Pada tahun 1963 Thea masuk ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang saat ini menjadi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadi dosen Bahasa Inggris. Tak hanya itu, pada tahun 1966 Thea kemudian menjadi Dekan Fakultas Bahasa dan Seni. “Setelah beberapa kali jadi Ketua jurusan, saya di minta jadi Dekan,”

Thea menikah dengan seorang lelaki hebat, Gatot Kusuma Hadi, yang menjadi teman hidupnya kala suka dan duka. “Papa itu memang is the best,” begitu yang Thea jawab ketika ditanya tentang sosok suaminya yang telah wafat 20 tahun yang lalu.

Karena bukan hanya film Surabaya Membara saja yang membuat nama suaminya tidak asing lagi di kalangan warga Surabaya, namun juga karena keterlibatannya dalam berperang melawan Belanda saat masa penjajahan.

Tapi yang mengherankan adalah tanggapannya saat ditanya tentang peran apa saja yang telah dilakoninya untuk mendampingi sang Suami yang memiliki semangat tinggi untuk negeri ini.

“Saya ini bukan istri yang baik. Setelah menikah, kami punya dunia sendiri-sendiri. Dia dengan dunianya, dan saya dengan dunia saya. Ya jadi dosen itu,”

Sayangnya, bagi beberapa orang hidup memang tidak pernah mudah. Dia harus menghadapi kenyataan ketika suaminya dipanggil Tuhan. Namun untung tak bisa di raih malang tak bisa ditolak. Setelah kepergian suaminya, Thea harus kembali kelihangan orang yang di kasihinya. Ketiga anak lelaki nya meninggal dunia.

Kehidupan harus terus berjalan, usianya yang renta harus membuatnya bersabar. Karena berbagai penyakit yang diidapnya mulai mengganggu aktivitasnya.

Waktu luang yang ia habiskan tanpa aktivitas apapun membuatnya jenuh dan menginspirasinya untuk menulis. Hebatnya, hanya dalam kurung waktu tiga tahun Thea telah berhasil merilis dua buku spektakuler.

Buku pertamanya Jalan yang Telah Kulalui adalah biografi yang menceritakan seluruh kisah hidupnya dan bagaimana ia tetap berdiri tegar di tengah badai cobaan.

Endang merupakan karya keduanya dalam bentuk novel yang bercerita tentang seorang wanita yang bersuami ketua buruh pabrik gula saat era PKI masih berjaya. Dapat dibayangkan betapa novel tersebut dapat menguras emosi.

Buku ketiga yang sedang digarapnya dan belum rampung penyelesaiannya juga merupakan sebuah novel yang inspirasinya ia dapatkan dari mendiang suaminya sendiri. Novel tersebut akan berkisah tentang seorang lelaki pejuang yang gagah berani dan cerdas.

“Doakan saya agar tak dipanggil Tuhan, sebelum novel ini selesai,” tutur wanita pengagum novel Prophet karya Kahlil Gibran. Sembari tersenyum dan mengakhiri pembicaraan malam itu. (N/F: Caca, Pita)