Corona Virus, Antara Media dan Ketakutan Warga Papua

Actasurya – Corona Virus atau Covid-19 yang berawal dari Wuhan, Cina itu menggemparkan dunia pada akhir 2019 lalu. Virus yang memakan ribuan korban jiwa ini, juga masuk ke Indonesia. Tepatnya diawal Maret, menyerang ibu Kota Jakarta. Hingga menyebar ke hampir seluruh daerah. Penyebarannya yang pesat, menciptakan rasa was-was bagi masyarakat.

Tak lama dikabarkan, wabah ini tiba di pulau paling timur Indonesia, yaitu Papua. Demi mencegah penularan, sebagian pemerintah daerah berinisiatif menutup akses keluar masuk Papua.

Seperti yang dilakukan Gubernur Papua, Lukas Enembe. Ia dengan sigap, menutup jalur transportasi udara dan membatasi aktivitas lainnya. Hal serupa, juga dilakukan Wali Kota Sorong dan beberapa Bupati di Papua. Mereka pun menutup akses keluar masuk daerahnya.

Hal ini dilakukan, karena jumlah pasien positif kian bertambah. Berdasar data dari suarapapua.com, hingga 24 April 2020. Jumlah terjangkit mencapai 137 orang dan meninggal 3 orang. Seperti halnya di Provinsi Papua Barat. Pada 19 April lalu, sudah terjangkit 7 orang dan 1 orang meninggal. Adanya info tersebut, membuat warga Papua takut dan menimbulkan fobia tersendiri.

Fobia itu muncul, disebabkan sulitnya warga Papua memperoleh informasi secara luas. Kita jangan berpikir sama dengan daerah lainnya. Hal ini dikarenakan, jaringan yang tidak mendukung dan membuat masyarakat Papua, tak dapat melakukan chek and re-check ke berita yang lebih akurat. Akhirnya, warga akan langsung percaya dari satu sumber berita tersebut.

Seperti halnya, orang Papua yang umumnya aktif di sosial media Facebook. Secara mudah mereka akan langsung percaya, dengan postingan di platform tersebut. Tanpa melakukan verifikasi ke media yang lebih kredibel.

Terlepas dari pemberitaan media, maupun postingan di media sosial. Pemerintah dan dinas terkaitpun, telah menghimbau terkait cara pencegahan virus. Pihak terkait berharap, warga dapat mematuhi hal tersebut. Namun kenyataannya, warga Papua terlanjur terjebak dalam fobianya, yang dibangun oleh informasi dengan penyajian tulisan hiperbola.

Timbulnya ketakutan ini, menurut saya berawal dari media yang mengutamakan bobot berita, “bad news is a good news”. Tanpa memperhatikan kondisi yang terjadi di masyarakat. Sementara berita, mampu mempengaruhi pembacanya. Hal inilah, yang belum diperhatikan media di Papua ataupun di daerah lainnya.

Hal itulah yang membuat orang dari kota Papua, ketika ingin pulang kampung mengalami fobia. Tak hanya itu, warga kampung pun memiliki perasaan takut yang sama. Menurut mereka, virus corona menyebar dari orang-orang yang tinggal di kota.(N/F: Max/Google)