actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»SENI BUDAYA»Tak Ingin Kalah dengan Laki-laki
SENI BUDAYA

Tak Ingin Kalah dengan Laki-laki

redaksiBy redaksi30 April 2010
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


“Saya merasa menjadi seorang perempuan seutuhnya di Hari Kartini. Karena di hari-hari lainnya, perempuan dan laki-laki sama saja,” ujar seniman dan kreator seni Natalini Widhiasi (46), Rabu (14/4), saat pembukaan pameran seni “Women Artist Carnival” di House of Sampoerna Surabaya.
Peraih medali perak “Shankar’s Internasional Children Competition” di India 1973 ini menyatakan, perempuan punya hak yang sama dalam berkarya. Terutama dalam seni rupa. Perempuan juga punya kekuatan yang sama untuk menampilkan karya terbaik.
Ia menambahkan, perempuan memiliki semangat dan kreativitas yang tak kalah dibanding dengan laki-laki. “Bukan berarti wanita terbelakang. Namun, ada tugas dari alam sesuai kodrat kami (wanita),” tuturnya.
Sewaktu muda, Natalini sempat tak ingin menikah. “Saya ingin berkeliling dunia dan terus melukis,” ujar Lini, sapaan akrabnya. “Namun, saya merasa berdosa bila menentang kodrat tersebut,” ujar istri prof Ekobudi Jatmiko pembantu rektor IV ITS ini.
Dalam pameran yang diselenggarakan 16 April – 16 Mei tersebut, wanita yang mulai melukis sejak umur belasan tahun ini mempersembahkan lukisan diatas kanvas. Ia menyajikan warna gelap dalam lukisan yang diberi judul Contemplatif.
Selain itu, Natalini juga ditemani 21 perupa lain dalam pameran tersebut. Salah satunya Millie Huang. Ia menyuguhkan karya lukisan dengan menggunakan kuali (wajan) sebagai media yang dicat.
“Wajan sebagai peralatan dapur bisa dikatakan lekat dengan perempuan. Karena dapur adalah dunia perempuan, tapi perempuan juga bisa berkarya,” ungkapnya.
Menurut kurator pameran Agus (Koecink) Soekamto, dalam karya-karya yang disajikan terdapat unsur kehalusan dan tampilan warna yang tidak terkesan memberontak. Kemudian ada kaitannya dengan dunia perempuan seperti daun, benang, kuali (wajan), bunga, dan sebagainya.
(Subagus Indra)


Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”

12 November 2025

Tak Seperti Tahun Lalu, Aliansi Mahasiswa Adakan Bazar Ormawa di Luar Kampus

12 November 2020

KIBAS Gelar Pameran Daring “Batik Gendongan Jawa Timur” Khas Madura

24 Oktober 2020

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.