Sulaman Rasa Duren dengan Sambal ala Raja Duren

actasurya.com – Siapa yang tidak mengenal duren? Buah ini terkenal dengan kulitnya yang berduri dan rasa manis ketika daging dalamnya hancur dalam barisan gigi. Penggunaan buah duren dalam beberapa rasa minuman ataupun kreasi makanan pun telah lama bermunculan. Dari beraneka ragam kreasi makanan tersebut, lahirlah sebuah inovasi baru bernama ayam sambal duren, menu yang tersaji di sebuah rumah makan bernama Raja Duren.

Salah satu menu favorit ini begitu dinikmati berbagai kalangan. Dilihat dari pelafalannya saja, pasti sudah membuat banyak orang ingin merasakan ayam dengan sambel yang memiliki unsur duren di dalamnya.

Sepotong ayam renyah yang dihidangkan di atas piring, serta sensasi sambal yang dibalut topping duren membuat lidah dapat menangkap rasa khas duren pedas. Resep yang ditemukan antara bulan Juni dan Juli tahun 2014 itu berawal dari inisiatif pemilik perusahaan, Ayu Pusparini. Ia memikirkan bagaimana caranya agar pancake tidak selalu menjadi menu utama dalam penjualannya. Akhirnya Ayu mencoba untuk mencampur duren dengan sambal.

“Awalnya kita coba menemplok duren dengan sambel, tapi terlalu kuat rasa durennya. Akhirnya kita olah kembali menggunakan minyak kemudian kita juga buat topping-nya,” tutur Nuril Rasyid, seorang pegawai senior di Rumah Makan tersebut. Hidangan lainnya seperti cumi hitam dan juga iga sambel duren pun turut menjadi primadona di sana.

Ayam sambel duren adalah pilihan tepat untuk makan siang maupun makan malam, karena rasa pedas dengan unsur duren didalamnya membuat orang ketagihan. Keistimewaan lainnya secara umum adalah tidak terlalu menonjolnya rasa duren pada sambel. Rasa duren didapat dari sisipan kandungan buah itu dari hasil ekstrakan menjadi minyak, dan itu bahan yang diperlukan untuk membuat sambel duren.

BACA JUGA   Mengayun Stick Golf di Brawijaya Driving Range

“Kita sih kesini karena penasaran sama menu-menu disini, terutama yang ini nih, ayam sambal duren,” tutur Iskandar Zulkarnain, mahasiswa UPN berumur 21 tahun yang akrab disapa Dandang. Pengunjung didominasi oleh pemuda-pemudi yang sebagian besar adalah mahasiswa. Tapi tidak melulu mahasiswa, ada juga yang makan bersama keluarga. “Ini berhubung saya lagi off, saya ajak saja si kecil sama mamanya kesini,” ungkap M.Machfud, salah satu pengunjung saat diwawancarai di lokasi. (N/F : Dewid)