actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»FEATURES»Spotlight: Representasi Jurnalisme Investigasi
FEATURES

Spotlight: Representasi Jurnalisme Investigasi

redaksiBy redaksi4 April 2016
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

actasurya.com – Diangkat dari kisah nyata, Spotlight menjadi salah satu film yang memukau. Ditambah film yang disutradarai oleh Tom McCarthy dari pemenang hadiah Pulitzer Prize for Public Service pada tahun 2003. Film ini dibintangi oleh Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, John Slattery, Stanley Tucci, Brian d’Arcy James, Liev Schreiber, dan Billy Crudup.

Berkisah tentang tim “Spotlight” di salah satu kantor berita The Boston Globe di Amerika Serikat. Spotlight memiliki tugas untuk melakukan peliputan investigasi. Beranggotakan lima orang personil, Spotlight melakukan penyelidikan mendalam tentang sebuah kasus yang terpendam. Seperti adanya penyalahgunaan wewenang di Korps Kepolisian di Boston.

Namun di tengah jalan, muncul ke permukaan adanya isu pelecehan seksual anak di bawah umur. Lebih parahnya lagi ini dilakukan oleh para pastur yang terdapat di Kota Boston. Hal ini menjadi sorotan Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton). Seluruh tim diinstruksikan untuk mencari data sedetail mungkin. Pendalaman kasus dimulai dari pencaharian dokumen-dokumen dalam kantor berita. Ternyata dari divisi Litbang mendapatkan sebuah kasus yang dulunya pernah diangkat The Boston Globe. Sayangnya, kasus itu ditutup entah tanpa ada alasannya jelas.

Sebagai data awal, seluruh narasumber ataupun korban dalam kasus itu dihubungi. Dari sana, ada seorang aktivis yang dahulunya pernah menjadi korban pelecehan yang dilakukan pastur. Sebuah fakta kembali terungkap ternyata dari pihak Gereja berusah agar kasus ini tetap tertutup dan ter-follow up. Kala itu, Gereja memiliki pengaruh yang besar dalam sebuah pemerintahan.

Satu persatu korban terdata. Dari satu pintu ke pintu yang lain, tim Spotlight terus menyusuri kasus. Meski tidaklah mudah, apalagi banyak dari korban yang memilih tutup mulut. Dan data yang berada di pengadilan telah dipindahkan. Akhirnya, tercatat total sekitar 87 kasus pelecehan seksual terjadi di Boston dan pelakunya adalah pastur.

Siapa sangka, kasus sebesar ini telah terpendam bertahun-tahun lamanya. Banyak pihak yang berusaha menutupi. Akan tetapi berkat Spotlight, kasus ini terungkap. Masyarakat akhirnya tahu kebenaran di balik kasus itu.

Dari film ini, saya merasa sangat takjub. Satu kata yang terlintas di benak saya ketika melihat film ini adalah militan.  Apalagi dengan kinerja dari tim Spotlight. Guna menyingkap sebuah kebenaran yang telah lama dikaburkan. Berbagai macam upaya dilakukan meskipun tantangannya begitu besar. Dimulai dari data atas kasus yang pernah didakwa di pengadilan itu disembunyikan. Ditambah juga dengan berbagai macam penolakan dari para korban.

Dilihat dari kacamata seorang jurnalis, banyak hal yang bisa didapat. Di antaranya teknik melobi, bagaimana seorang melobi narasumber ataupun seorang untuk mencapai tujuan kita, tidak melulu dengan lembut dan menerima begitu saja. Kadangkala seorang wartawan harus juga ulet dan menekan. Seperti yang digambarkan seorang jurnalis dari Spotlight yang berulangkali memaksa narasumbernya dengan berbagai macam strategi negosiasinya. (N/F: Fahmi/Google)

Film investigasi jurnalistik Review spotlight
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Laboratorium Jurnalisme di Kampus Wartawan

29 April 2024

Sukses Gelar Konser di Jakarta, NCT 127 Beri Pengalaman Tak Terlupakan Bagi NCTzen

16 Januari 2024

30 Tahun Mengabdi untuk Stikosa-AWS, Zainal: Jadilah Orang yang Bermanfaat

8 Desember 2023

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.