Sekilas Perpusda Jatim

Membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca seseorang dapat membuka mata terhadap dunia luar. Sayangnya, membaca bukanlah kebiasaan yang membudaya pada bangsa Indonesia. Mayoritas bangsa kita menganggap membaca membutuhkan waktu-waktu khusus, yang luang dari segala aktivitasnya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Bangsa Indonesia memiliki gelar kepahlawanan, salah satunya adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang ditujukan kepada Guru. Memperingati hari pendidikan yang bertepatan pada tanggal 2 Mei, kali ini Acta Surya mengulas salah satu gudang ilmu peninggalan Belanda. Dulunya, bangunan ini beralamat di Jl. Walikota Mustajab no. 68. Namanya Central Bibliotheek, namun masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan Taman Pustaka Masyarakat (TPM). Kini, bangunan yang sarat akan ilmu dan informasi itu lebih akrab dikenal dengan nama Perpusda (Perpustakaan Daerah) yang terletak di Jl. Menur Pumpungan No. 32 Surabaya.

Yunus, S. Pd, M. Si., Kepala Sub Bidang Layanan Perpustakaan yang ditemui di ruang kerjanya, membenarkan. “Tahun 1952 kita bertempat di kantor Dinas Pendidikan di Jl. Walikota Mustajab 68, kemudian kami membangun gedung ini pada tahun 1958,” katanya.

Rupanya perubahan struktur lembaga tersebut tidak berhenti di situ saja. Pada 1978, terjadi perubahan status kelembagaan perpustakaan, dari Perpustakaan Negara menjadi Perpustakaan Wilayah dibawah Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Pertengahan Juni 1990, nama Perpustakaan Wilayah diganti menjadi Perpustakaan Daerah, sesuai keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 001/Org/9/1990.

Ditanya mengenai alasan perpindahan lokasi tersebut, Yunus menjelaskan hal itu dikarenakan kantor dinas pendidikan yang dijadikan perpustakaan kurang luas. Sehingga kapasitas untuk menampung buku dan pengunjung tidak cukup, serta letaknya juga kurang strategis.

“Tempat yang disediakan di kantor Dinas Pendidikan kurang luas dan kurang strategis. Akhirnya “diboyonglah” semua perlengkapan ke sini. Lokasi di sini sangat strategis karena dekat dengan kampus-kampus ataupun sekolahan,” papar pria berumur 52 tahun ini.

Bericara mengenai fasilitas, perpustakaan ini melengkapi dirinya dengan AC dan mesin foto copy. Pengunjung juga dimanjakan dengan fasilitas internet. Tujuh computer untuk pengunjung dewasa dan tiga set untuk pengunjung anak-anak disediakan di sebuah ruangan, sebelah kanan setelah pintu masuk. Dari usaha yang dilakukan tersebut, tampaknya pihak Perpusda tidak mau dikatakan “merem” teknologi.

Meskipun penggunaan layanan tersebut hanya dibatasi durasi 30 menit, hal tersebut tidak membuat pengunjung merasa kecewa. Terbukti dari penuhnya kursi-kursi yang disediakan pihak Perpustakaan ini. Perihal mengenai fasilitas baru tersebut, Yunus juga menjelaskan karena orang cenderung lebih suka melihat gambar ketimbang membaca. “Memang kami sengaja memberikan fasilitas internet, agar pengunjung tidak merasa bosan yang hanya disuguhi dengan lembaran-lembaran tulisan saja,” jelasnya.

Menjawab pertanyaan menyangkut perubahan-perubahan apa saja yang dialami perpustakaan yang berjalan sejak tanggal 1 Februari 1959 ini, Yunus mengaku banyak sekali perubahan-perubahan signifikannya. “Ketika pertama kali saya mulai bekerja di sini tahun 1979, pegawainya hanya 10 orang. Tapi, sekarang sudah sekitar 200 orang lebih,” ulasnya.

Selain bertambahnya SDM yang ada, perubahanpun terjadi pada koleksi buku. Yang dulunya hanya berjumlah 10-20 ribu, sekarang sudah mencapai 120 ribu buku. Pengunjung yang hanya 10 orang saja, sekarang sudah mencapai puluhan bahkan ratusan pengunjung perharinya. Dan jam buka perpustakaan yang dulu hanya hari Senin sampai Jum’at, sekarang ditambah Sabtu dan Minggu mulai pukul 08.00 BBWI-12.30 BBWI.

Perubahan juga terjadi pada sistem promosi perpustakaan, yang dulunya hanya “jaga gawang” saja, sekarang Perpusda mulai menggencarkan promosinya dengan teknik “menjemput bola”, yaitu perpustakaan keliling. “Selain mempromosikan Perpusda, kami juga menyosialisasikan agar generasi bangsa kita suka membaca. Program kami sudah berjalan di SD-SD. Sasaran kami adalah anak-anak SD karena mereka adalah generasi bangsa,” lanjutnya.

Untuk memperlancar rutinitas tersebut, Perpustakaan juga menyediakan dua mobil perpustakaan keliling yang dioperasikan di sekitar wilayah Sidoarjo dan Gresik. “Bahkan mobil perpustakaan keliling kita juga sudah merambah sampai Lapindo dan taman Bungkul. Itu semua tidak terprogram, langsung tercetus begitu saja,” ujar pria yang pernah mengelola perpustakaan perintis yang terletak di SMAN 9.

Promosi kepada pihak luar juga dilakukan baik itu melalui media cetak maupun Visual. Sayangnya, kebanggaan-kebanggaan itu sedikit diredupkan adanya hambatan-hambatan yang dialami Perpusda selama ini. Yang sering dikeluhkan Perpusda adalah tidak adanya kapasitas lebih besar lagi untuk menampung koran dan majalah yang sudah menumpuk sekitar 2 tahun terakhir ini.

“Oleh karena itu, kami berupaya agar koran dan majalah yang ada, tidak menjadi tumpukan-tumpukan saja. Rencananya kami akan membuat menscan berita dan informasi yang ada dalam koran dan majalah tersebut dalam bentuk file,” jelas pria yang sudah 29 tahun bekerja di Perpustakaan ini.

Tak hanya masalah tidak adanya kapasitas saja, ternyata Perpusda juga membutuhkan genset agar ketika listrik mati, aktivitas para pegawai tidak terganggu sehingga dapat bekerja dengan lancar. “Karena dari pengalaman yang dialami, ketika listrik mati aktivitas kami berhenti total. Maka dari itu kami, berharap agar secepatnya semua dapat terwujud,” harapnya.

Rupanya hambatan-hambatan tersebut tidak memadamkan semangat pihak Perpusda untuk melakukan perubahan-perubahan selanjutnya. Ditanya mengenai fasilitas apa yang nantinya akan ditambahkan untuk perkembangan perpustakaan, pihaknya berencana menambah fasilitas Home Theatre yang dikhususkan untuk anak-anak.

Annisa, salah satu pengunjung asal Surabaya yang mengaku senang mengunjungi Perpusda. “Senang karena disini saya bisa menyalurkan hobi membaca buku-buku sastra, seperti novel dan cerpen,” aku gadis kelas tiga SD ini.

Lain halnya dengan Maya yang sedikit mengeluhkan kelengkapan koleksi buku Perpusda. “Sedikit kecewa sih, soalnya buku-bukunya kurang lengkap terutama untuk sastra,” keluh mahasiswi PGRI jurusan Bahasa ini. (Naskah : Tri Amalya / Foto: QusnuL Tauhid)