Seberkas Cahaya Dalam Semangat Irama Budaya

Jika dilihat dari struktur bangunannya, gedung itu bisa dibilang jauh dari kata mewah. Beberapa lampu gantung pun tak mampu menambah cahaya ruangan itu walau di saat  siang hari. Gamelan yang tak pernah diganti, serta keadaaan ruangan yang lembab semakin menambah miris orang yang memasuki gedung itu. Namun semangat para pemain maupun pengurus Ludruk Irama Budaya seakan menjadi seberkas sinar tertinggal yang mampu menerangi gedung itu.

Siapa yang tidak kenal Ludruk? Hampir semua lapisan masyarakat pasti pernah mendengar kesenian asli Jawa Timur ini. Seiring berjalannya waktu, banyak sanggar kesenian ludruk yang perlahan-lahan mulai tenggelam. Namun hal ini tidak terjadi pada Sanggar Ludruk Irama Budaya yang bermarkas di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

Berdiri sekitar tahun 1987 oleh Sakiyah, banyak perubahan terjadi di sanggar ludruk Surabaya yang masih tetap berdiri ini. Mulai dari menyusutnya jumlah pemain, hingga penonton. Jika dulu kursi penonton mampu terpenuhi hingga 300 penonton, saat ini hanya mampu menampung 150 orang. Itupun tidak semua terpenuhi, hanya sekitar 25 sampai 50 kursi.

Animo masyarakat yang masih setia menonton pagelaran ludruk ini perlahan-lahan surut. Salah satu penonton bernama Siti mengungkapkan bahwa dari dulu hingga sekarang, kualitas pertunjukkan ludruk Irama Budaya sama saja. Apalagi ketika Sakiyah menutup usia sejak empat bulan yang lalu, penontonnya jadi semakin sepi. Namun, wanita yang berumur 75 tahun ini juga mempunyai harapan untuk Irama Budaya agar tetap langgeng hingga beberapa tahun ke depan.

Perubahan signifikan itu mulai terjadi saat ludruk Irama Budaya pindah dari markas sebelumnya yang terletak di Wonokromo. Pada saat itu, ludruk Irama Budaya tengah mereguk masa kejayaannya sebagai salah satu lakon kesenian Jawa Timur. Tapi karena mahalnya biaya sewa gedung, mau tidak mau mereka harus pindah ke Taman Hiburan Rakyat yang terletak di Jl. Kusuma Bangsa 116-118 Surabaya.

Menurut Yasin sebagai salah satu pemain gamelan, kurangnya perhatian pemerintah menjadi salah satu alasan kondisi Irama Budaya yang kian lama kian mengkhawatirkan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Deden, ketua Irama Budaya saat ini. “Pemerintah kota memberi gedung ini tanpa bayar biaya sewa saja sudah sangat membantu bagi kami,” ujar pria berumur 31 tahun ini.

BACA JUGA   Penjaga Sang Malam

Deden juga mengungkapkan bahwa pemerintah tidak sepenuhnya menutup mata terhadap sanggar ludruk Irama Budaya. Hal itu dibuktikan dari permintaan Unit Pelaksana Teknis Daerah(UPTD) untuk menampilkan pertunjukkan seni yang digratiskan untuk masyarakat umum setiap dua tahun sekali.

Baru menjabat sebagai ketua Irama Budaya sekitar empat bulan yang lalu tentu banyak meninggalkan kesan dan pelajaran bagi Deden. Dirinya yang mengikuti Sakiyah dalam dunia seni ludruk sejak dua belas tahun yang lalu ini mengatakan lebih banyak merasakan duka ketimbang suka.

“Harapannya ke depan, saya tentu ingin Irama Budaya lebih maju lagi dan ada donatur yang peduli kepada kesenian ludruk,” kata pria asal Bogor ini seraya menyunggingkan senyum optimis. N/F : Amalia