Safari Budaya Bangunan Tua

Berada di dalam trem menikmati bangunan peninggalan Surabaya tempo dulu, dengan fasilitas modern, membawa memori masa lalu kembali bergelora, berminat?

Disadari atau tidak Surabaya banyak memiliki warisan bangunan tua dengan nilai sejarah tinggi. Potensi ini menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Hal inilah yang mengilhami manajemen House of Sampoerna (HoS) menghadirkan Surabaya Heritage Track (SHT). Ini merupakan tour keliling kota dengan meggunakan bus (city sightseeing bus) di Surabaya bagian utara yang melintasi bangunan tua bersejarah.
Senin, 8 Juni 2009 menjadi hari diresmikannya SHT oleh walikota Surabaya, Bambang DH. Program ini diselenggarakan oleh Sampoerna yang bekerjasama dengan pemkot Surabaya untuk mendukung upaya pemeliharaan cagar budaya di Surabaya.

Bus berwarna merah dengan kapasitas 22 orang penumpang ini memiliki model seperti kereta trem, kendaraan jalanan Surabaya jaman kolonial. Dengan fasilitas area kursi roda, kaca yang besar dan full AC, membuat para penumpang nyaman saat berada di dalam bus.

Tour Guide
Selama berkeliling, kita akan dipandu oleh tour guide yang akan menjelaskan bangunan bersejarah yang kita lewati. Tak hanya melihat, wisatawan juga mampir di beberapa tempat bersejarah.
Konsep yang disuguhkan pihak manajemen House of Sampoerna memang berbeda dari kebanyakan. Dengan semangat motivasi untuk mengangkat kembali kecintaan masyarakat terhadap hal-hal yang mempunyai nilai historis tinggi, HoS membuat banyak perbedaan, utamanya dalam konsep guide tour yang diluar kebiasaan. Biasanya tour guide merupakan orang-orang tua atau menggunakan media kaset video. Tapi HoS memperkerjakan tour guide yang relatif cukup muda, seperti yang pernah dijelaskan oleh Ina Salis, General Manager HoS pada media setempat. Konsep ini terbukti secara efektif dapat merangsang keinginan orang untuk berkunjung ke HoS, utamanya untuk menikmati SHT.
“Surabaya Heritage Track oleh masyarakat dijadikan salah satu alternatif objek wisata yang harus dikunjungi di Surabaya. Mungkin mereka tahu dari pemberitaan,” tutur Ayu, marketing HoS dengan yakin.

Track
Bagi pengunjung atau tracker akan diberi kartu identitas. Pengunjung tidak dipungut biaya sedikit pun untuk mengikuti perjalanan ini. Bus SHT hanya berangkat dan tiba di HoS, bus tidak akan menurunkan atau mengambil penumpang selama perjalanan.
”Sejak dijalankan pada 2009, penumpang SHT per bulan rata-rata 1.200 orang,” jelas Ayu, Kamis (31/12). Bus SHT akan berkeliling tiga kali dalam sehari, Bus ini mempunyai dua rute perjalanan, short trip dan long trip.
Short trip merupakan tur yang mempunyai rute pendek pada Selasa-Kamis mulai pukul 10.00-17.00 WIB. Sedangkan Long trip yang diadakan pada Jumat-Minggu, 09.00-17.00 WIB.
Dalam tur pendek, bus berangkat dari terminal HoS melewati bekas penjara Kalisosok yang pada jamannya dikenal sebagai penjara paling kejam. Kemudian perjalanan diteruskan ke gedung Internasional.

Lalu, tracker mendapat penjelasan dari guide tentang Jembatan Merah saat bus melintas jembatan tempat arek-arek Suroboyo jenderal melawan A.W.S Mallaby dalam pertempuran 10 November.

Selanjutnya perjalanan melewati Polwiltabes, guide kembali menjelaskan tentang terowongan bawah tanah yang menghubungkan antara penjara Kalisosok dengan kantor Polwiltabes Sikatan.
Ketika bus berhenti di Tugu Pahlawan dan Gedung PTPN XI, tracker dapat turun dan menikmati sejenak bangunan bersejarah. Namun, ketika ditempat ini tracker hanya diperbolehkan berkeliling di sekitar lobby gedung mengingat kegiatan perkantoran yang masih aktif. Perjalanan dalam tour pendek ini memakan waktu satu setengah jam.
Sedangkan dalam tur panjang, bus berangkat dari terminal HoS lebih awal satu jam. bus akan melewati rute yang sama seperti tur pendek dengan tambahan melewati Tunjungan, Hotel Majapahit, dan gedung Grahadi.

Tur panjang memiliki perbedaan jadwal dalam rute pemberhentian. Pada jadwal pertama, bus akan berhenti di Balai Pemuda, disana para tracker dapat menikmati reog Ponorogo selama 10-15 menit. Tapi pada jadwal kedua, tracker akan diturunkan di Balai kota untuk mengulas sedikit sejarah tentang kota Surabaya dan keindahan arsitektur gedung pemerintah kota.
Dan pada jadwal ketiga bus akan berhenti di Gedung Kesenian Jawa Timur yang akrab di telinga kita dengan nama Cak Durasim, para tracker dapat melihat dan mengikuti tarian siswa kursus tari tradisional di pendopo Cak Durasim.
Dalam tur ini tracker juga dapat menikmati jajanan tradisional khas Surabaya seperti rujak cingur, semanggi, dan lain-lain. Saat perjalanan pulang tracker melewati jalan Praban. Mereka diberi sedikit cerita oleh guide tentang makam kuno di praban. Bus juga akan melewati gedung PTPN XI. Perjalanan tur panjang ini memakan waktu dua jam. Bis beristirahat beroperasi pada hari senin, tapi bis ini tidak dapat disewakan.

Tracker
Sejak dibuka untuk umum, banyak pengunjung yang mengaku senang dan puas mengikuti tur ini. Karena praktis dan berbeda dari objek wisata yang ada di Surabaya. Tetapi, terkadang pengunjung menyayangkan dengan pendeknya jam perjalanan, seperti yang dijelaskan oleh co-driver bis SHT, Edo. “Kita biasanya memberi kertas kritik dan saran setelah tur slelesai dan kebanyakan orang-orang itu mengeluh mbak, karena jamnya terlalu singkat. Tapi sampai saat ini orang-orang suka-suka aja dengan tur ini,” ulasnya.

”Bus akan tetap berangkat meskipun kondisi bis tidak penuh, walaupun cuma sepuluh atau dua orang kita tetap berangkat sesuai jadwal, selama ada yang diangkut lho mbak. Tapi selama ini tidak pernah sepi,” imbuhnya.

Pengunjung tidak hanya berasal dari dalam kota, tetapi banyak juga pengunjung berasal dari luar kota bahkan dari luar negeri. Karena itu guide diwajibkan bisa menguasai bahasa inggris dengan lancar.

Januar, salah satu tracker pria kelahiran Surabaya tahun 1946 mengaku senang bisa bernostalgia kembali mengingat masa mudanya. ”Dulu di Surabaya ada trem, jadi saya senang bisa naik trem lagi. Sudah banyak mbak yang berubah di Surabaya,” akunya.

SHT ini, lanjutnya, membantu dirinya berkeliling Surabaya Utara yang menjadi pusat kota lama. saat itu dia ditemani oleh putri dan menantunya yang langsung datang dari Sidney, Australia.
Ada juga penumpang SHT asal Bogor, ibu dua anak ini mengajak anak-anaknya ke Surabaya untuk menghabiskan liburan akhir tahun.

Adapula turis asal Amerika, yang sebenarnya datang ke Surabaya untuk urusan bisnis juga menyempatkan waktu menikmati SHT. “Dia (turis asal Amerika) memang interest dengan bangunan tua. Kalau jalan-jalan pasti yang dicari gedung tua seperti perjalanan sebelumnya di Penang, Malaysia juga kayak gitu,” ujar Eva, teman perempuan dari turis tersebut yang kebetulan berasal dari Surabaya.

Program Baru
Edo menjelaskan bahwa di tahun 2010 akan ada program baru dari SHT dengan menambahkan rute baru yang lebih panjang.

Meskipun tur ini dapat diikuti secara gratis, tapi para tracker diwajibkan untuk mempunyai tiket yang nantinya akan ditunjukkan kepada kondektur. Tiket dapat diambil di TIC (Trackers Information Center) HoS Taman Sampoerna 6 Surabaya.

Bagi yang berminat mengikuti tur ini, hendaknya mengetahui jadwal keberangkatan dan rute tur SHT agar anda sekalian bisa memutuskan akan mengikuti jadwal dan rute perjalanan yang mana serta tidak tertinggal, karena bus akan selalu berangkat tepat waktu. (N/F: Dian Rosita/ Haifa Lina A.)






One thought on “Safari Budaya Bangunan Tua