Persembahan 17 Tahun, Teater Lingkar Surabaya

actasurya.com – Memperingati 17 tahun usianya yang jatuh pada 8 Agustus mendatang, Teater Lingkar Surabaya menggelar pentas keliling yang diadakan di dua kota, yaitu Batu (14/5) dan Surabaya (21/5).

“17 tahun perjalanan Teater Lingkar Surabaya tentu bukanlah proses yang instan. Kami berusaha menyajikan pertunjukkan yang syarat akan pesan moral untuk para hadirin sekalian,” ungkap Enny Suryani, Ketua Umum Teater Lingkar Surabaya.

Acara yang diselenggarakan di  Gedung Kesenian Cak Durasim (21/5) ini, dibuka dengan tarian Gelang Ro’om, berasal dari Madura. Lalu dilanjutkan dengan dua pementasan drama, diantaranya “Pledoi Setan” dan “Malam Botak”.

Di mana Pledoi Setan menceritakan tentang para setan yang mengajukan pembelaan dirinya, karena merasa manusia kini pun bisa mengambil alih tugasnya. Sedangkan Malam Botak bercerita tentang dualisme kehidupan antara baik dan buruk, yang mana Botak dan Gondrong menjadi gelandangan.

Sayangnya, pentas keliling Teater Lingkar kali ini kurang mendapat apresiasi yang memuaskan di dua kota, terutama saat pementasan di kota Batu. Karena yang menghadiri kebanyakan berasal dari kelompok kesenian maupun UKM teater kampus. Menurut M.S. Hadiarsa, S.Ikom, Ketua Pelaksana, iklim apresiasi masyarakat Surabaya terhadap kesenian yang belum kondusif, menjadi salah satu penyebabnya.

“Tapi kita sangat senang. Segmen penonton kita 70% membidik pelajar SMA dan generasi muda, sudah sesuai dengan target,” aku pria yang akrab disapa Arsa ini.

Arsa berharap, pada program pentas keliling Teater Lingkar selanjutnya dapat berkolaborasi dengan seniman atau teaterawan kenamaan Indonesia. Kedepannya, Arsa juga berharap dunia seni semakin mendapat kontribusi dari institusi baik dari pemerintah maupun swasta sebagai kerjasama dalam hal penyuluhan maupun sosialisasi.

“Sehingga kesenian teater nantinya tidak hanya menjadi tontonan yang sepi peminat, tetapi juga menjadi suatu budaya di masyarakat untuk datang ke gedung pertunjukkan mengapresiasi kesenian baik tradisi maupun modern,” tutup Arsa.

BACA JUGA   Bonie Si Rocker

Retna Sari Nur Azaniah selaku pengunjung pun berharap, bahwa acara tersebut dapat berlangsung rutin tiap tahunnya. “Acaranya bagus, menghibur, dan banyak penonton yang suka,” ucap Retna. (Naskah: Amalia Irawati | Foto: Wisnu Priyo)