Perpustakaan Terselubung

actasurya.com – Sekilas tidak ada yang istimewa dari daerah perkampungan sekitar ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), di jalan Gebang Putih, kawasan yang padat dengan kost dan pemukiman mahasiswa perantauan itu terdapat beberapa warung makan dan warung kopi. Sekilas warung-warung tersebut terlihat sama, namun bila diamati ada satu warung yang berbeda dari warung lainnya, yaitu Warkop Taman Baca. Saat masuk ke dalam warung tersebut terlihat banyak ornamen dan pernak-pernik yang unik menghiasi setiap sudutnya yang sederhana.

Selain itu, yang membuatnya terlihat berbeda adalah adanya 3 rak buku yang lumayan besar terjajar. Di rak buku Warung Kopi Taman Baca ini ada sekitar 300 buku yang tersusun rapi. Buku-buku tersebut didapatkan dari sumbangan Perpustakaan kota sebanyak 150 eksemplar, sedangkan 150 buku lainnya didapatkan dari swadaya teman-teman yang peduli dengan minat baca yang mulai menghilang dari masyarakat.

Jika pada umumnya warung kopi hanya dikunjungi oleh orang-orang yang mencari kesenangan, namun berbeda dengan yang satu ini. pengunjung warung ini sebagian besar adalah mahasiswa dan warga yang ingin mengisi waktu luang dengan membaca, belajar dan berdiskusi dengan suasana ala warung kopi.

Adapun, pendiri dan pengelola dari warung ini adalah beberapa mahasiswa ITS. Di antaranya adalah Ruri Anwar. “Tujuan utama saya mendirikan Warung Kopi Taman Baca ini adalah untuk membudayakan minat baca masyarakat di sekitar kampung Gebang ini,“ begitu ucap Ruri, menyampaikan tujuan mulianya.

Pada awalnya, sebelum warung kopi taman baca ini didirikan, tempat ini adalah sebuah warung makan bernama Melas. Sedangkan Ruri Anwar dan teman-temannya merupakan pelanggan tetap dari warung melas itu. Mereka sering makan dan berkumpul ditempat itu, mereka juga merasa dekat dengan pekerja warung tersebut, yang akrab disapa Mas Bucek.

Hanya saja tidak lama warung melas itu ditutup karena mengalami kebangkrutan. Merasa kehilangan tempat untuk berkumpul dan iba melihat Mas Bucek yang sebelumya merasa kebingungan karena tidak ada pekerjaan, para Mahasiswa-mahasiwa tersebut akhirnya berinisiatif  menyewa tempat tersebut untuk mendirikan usaha warung kopi dengan Mas Bucek sebagai pengelolanya.

Konsep warung kopi ini terinspirasi dari taman baca yang Ada di kampus ITS “Dulu ada juga tempat seperti ini, tepatnya di kantin pusat ITS. Nah, saya juga aktif sebagai pengurus di sana,” ucap Ruri.

Karena konsepnya yang berbeda ini pada awalnya memang sulit diterima oleh warga sekitar. Ini dibuktikan dengan sepinya pengunjung pada awal warung ini berdiri. Namun dengan kegigihan dan kesabaran pengelola, lambat laun akhirnya warung ini bisa diterima dan ramai dikunjungi warga dan mahasiswa sekitar.

Warung berukuran 4 kali 6 meter ini juga sering mengundang anak-anak sekitar untuk belajar dan membaca kelompok, karena malam harinya warung ini mulai ramai dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa dan warga lainnya. Seperti kata Reza Febillia, “Saya hampir setiap hari ke sini, bisa berjam-jam. Tempat ini nyaman untuk membaca, karena koleksi bukunya juga lumayan lengkap, ” jawabnya, saat diwawancara oleh Reporter Acta Surya.

Hal senada diungkapkan oleh Zupri, “saya tiap malem kesini, kadang mengerjakan tugas, kadang cuma nongkrong. Karena suasananya enak dan tempat duduknya nyaman lesehan,“ ucap mahasiswa teknik sipil ITS tersebut. WARKOP Taman Baca  ini buka setiap hari dari pukul 15.00 sampai pukul 04.00 dini hari. (N/F: Farid)