Penjaga Sang Malam

Semilir angin malam seolah menjadi teman akrabnya bekerja. Bersama motor tuanya ia berangkat dengan semangat yang tulus dan penuh pengabdian. Jam telah menunjukan pukul 11 malam, asap yang keluar dari motornya menandakan bahwa ia sudah datang dan siap menjaga kampus Komunikasi tertua di Indonesia Timur.

Itulah sepintas penggalan dari Bambang, bapak paruh baya ini adalah penjaga malam di kampus Stikosa-AWS sejak tahun 1998 hingga sekarang. Pria asal Pacitan ini mengaku sangat senang bisa mengabdi di kampus wartawan yang usianya hampir sama dengannya. “Senangnya itu saya dengan mahasiswa sudah terjalin hubungan yang sangat akrab seperti anak dan bapak,tutur pria dengan rambut penuh uban.

Ketika ditanya soal pengalamanya selama menjadi security di Stikosa-AWS ia sontak menjawab dengan mata berkaca-kaca. Alhamdulillah selama saya jaga di kampus tidak ada kejadian yang genting kecuali kejadian 2 tahun yang lalu,” kata Bambang. “Waktu itu di kampus ada kasus kehilangan sepeda motor. Saya merasa sedih, ada perasaan bersalah pada instansi ini,” tambahnya.

Sebagaimana peraturan kampus yang melarang mahasiswanya bermalam, tak jarang ia harus bersitegang dengan mahasiswa yang masih saja bandel untuk bermalam tanpa surat ijin. ”Tapi itu sudah wajar mas, namanya pemikiran orang pasti berbeda-beda,” ujar pria yang bekerja mulai dari pukul 23.00-05.00.

Selama 15 tahun mengabdi, ia sebagai saksi hidup perkembangan kampus yang terkenal pencetak wartawan. Menurutnya, semenjak tahun 2000an Stikosa-AWS mengalami perkembangan yang sangat pesat. “Perpustakaan dan gedung biru itu sebagian contoh kecil perkembangan kampus yang dulu berada di Kapasari,” sambung suami dari Rahayu Widodo.

Tak hanya mahasiswa bandel yang menjadi secuil duka dari Bambang, namun pertanyaan dari anaknya seringkali membuatnya tertegun. “Anak-anak sering tanya kenapa saya setiap malam keluar. Untuk menjawab pertanyaan itu, tak jarang ia mengajak putra-putrinya megunjungi kampus ketika waktu luang,” ungkapnya ayah dari Eka Widyasari dan Widi Dwi Prasetyo.

Bambang mengaku walau hasil dari penjaga kampus tidaklah banyak, namun dia masih sanggup menghidupi keluarganya. “Ya, biarpun penghasilan saya tidak banyak, tapi Alhamdulillah cukup buat kebutuhan keluarga sehari hari. Rejeki itu yang penting barokah,” tambah pria berumur 48 tahun ini.

Selain itu, Bambang juga mempunyai saran atau pun masukan buat para mahasiswa. “Saran saya buat mahasiswa kita tingkatkan, kita jaga kedekatan yang sudah terjalin selama ini  sesuai dengan profesi masing-masing, kalau memang mau menginap di kampus ya harus mengikuti prosedur yang sudah ada biar tidak ada kesalahpahaman.

Sebuah tauladan dalam kehidupan, melaksanakan profesi dengan sepenuh hati dan tanggung jawab untuk memberi nafkah kepada keluarga. Tidak ada kata mengeluh apalagi putus asa, ini menjadi contoh bagi kita kaum muda untuk mengisi waktu hidup dengan arif dan bijaksana. N/F : Poundra