Pameran “Intrik” Visualisasi Dampak Covid-19 di Masyarakat

Salah satu pengunjung saat melihat hasil foto anggota muda Himmarfi, yang terpampang pada dinding Visma Gallery Surabaya, Senin (07/09).

Actasurya.com – Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi (Himmarfi) resmi menggelar pameran fotografi bertajuk “Intrik”. Pameran tersebut diselenggarakan pada tanggal 7-13 September, bertempat di Visma Gallery Jalan Tegalsari 35-37. Sebanyak 109 karya dari 11 anggota muda Himmarfi terpampang di dinding Visma gallery. Dikemas melalui media online, live Instagram @himmarfi dan Google Meet, serta offline dengan mematuhi protokol kesehatan.

Menghadapi kondisi wabah Covid-19, membuat Deva Ardi Listiyant Putra selaku ketua pelaksana pameran “Intrik – Virtual Photography Exhibition” bersama kesepuluh pameris lainnya. Memvisualkan dampak dari pandemi melalui hasil karya foto, agar memberikan peringatan serta pesan kepada masyarakat tentang bahayanya Covid-19.

“Dampak positif dan negatif dari pandemi divisualkan melalui hasil karya foto,” ujar Deva.

Untuk mempersiapkan pameran ini, Deva dan kawanannya menghabiskan tenggat waktu selama dua bulan. Menyiapkan konsep foto masing-masing, serta tempat digelarnya pameran.

“Proses memotret ini kami habiskan waktu selama dua bulan,” ungkapnya.

Menggelar pameran di tengah pandemi, Deva beserta partnersnya menghadapi berbagai kendala, seperti saat pemotretan di keramaian, timbul rasa waspada. Kendati demikian tak menyurutkan semangat mereka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Kendalanya saat memotret khususnya di keramaian timbul rasa was-was,” ujar Deva sapaan akrabnya.

Tak hanya itu, kendala lainnya juga datang dari perizinan kampus. Deva mengaku sempat mengalami penolakan saat mengajukan proposal kegiatan pameran tersebut. Sehingga, anggota muda Himmarfi memutuskan untuk menggelarnya secara mandiri tanpa naungan kampus.

“Kami sudah mengajukan proposal ke kampus namun ditolak, akibatnya ialah pengunduran waktu untuk pameran,” ungkap mahasiswa semester tiga ini.

“Tidak ada naungan dari kampus, kami adakan secara mandiri,” tambahnya.

Saat ditanya oleh awak media Acta Surya perihal alasan di balik terselenggaranya secara offline dan online, mahasiswa jurusan Broadcasting ini mengatakan bahwa kesusahan jika full online karena Himmarfi butuh dokumen untuk arsip cetak.

“Kesusahan full online, karena Himmarfi butuh untuk arsip cetak,” katanya.

Meski demikian, Deva berharap pengunjung yang melihat hasil karya dari 11 pameris ini, dapat memperbaiki diri sendiri terkait bahaya Covid-19 jangan disepelekan.

“Untuk memperbaiki diri sendiri, bahwa bahaya Covid-19 jangan disepelekan,” harapnya.

M. Abdul rahman selaku Humas (Hubungan Masyarakat) Himmarfi, mengatakan bahwa pameran ini merupakan agenda tahunan untuk anggota muda naik ke tingkat anggota madya.

“Agenda tahunan untuk anggota muda naik tingkat ke anggota madya,” katanya.

Ditanya mengapa memilih tema “Intrik”, terlebih di tengah pandemi, Abdul mengungkapkan tertarik dari segi pesan untuk disampaikan ke masyarakat.

“Menarik, dari segi pesan untuk disampaikan ke masyarakat,” tutupnya. (N/F:Frd, Max)