Merdeka lewat Dirgantara

Dalam sebuah Pidato Bung Karno pernah berkata “Jas Merah” Jangan pernah sekali melupakan Sejarah !. Seruan yang akan ada selalu pada setiap generasi Bangsa Indonesia. Namun, Apakah Radio bagian dari Sejarah Kemerdekaan Negara Kita?

Seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, Bangsa Indonesia juga terlahir, dengan segenap perjuangan tiga setengah abad lebih. Bertaruh nyawa, jiwa harga diri bangsa, membebaskan diri dari feodalisme penjajah dan membusungkan dada tanda kemenangan melalui Bumi Dirgantara .

Dan, pada 17 Agustus 1945, di jalan Pegangsaan timur no.56, pukul sepuluh pagi. Lembar ketikan Sayuti melik dibacakan Ir.Soekarno. “Proklamasi …..” kata pertama Sang Proklamator dengan lantang dan keras membacakan tiga baris kalimat.Tersirat didalamnya, Indonesia telah Merdeka dari penjajahan atas nama Tanah Air Nusantara.

Seperti halnya Sutan syahrir, saat menerima kabar melalui Radio bahwa Jepang telah menyerah pada Sekutu, disebabkan pengeboman Nagasaki dan Hiroshima tanggal 14 dan 15 Agustus 1945. Hal itu pula dilakukan pula oleh Yusuf ronodipuro, namun yang membedakan adalah pendiri kantor Berita ANTARA ini, bertindak sebagai penyampai Berita Kemerdakaan Indonesia ke seluruh Rakyat dari Pulau Sabang sampai Merauke.

Rangkaian peristiwa di atas menunjukan bahwa peran media Radio yang pada Zaman itu hanya dipergunakan sebagai propaganda, di sisi lain merupakan bagian dari alat perjuangan Rakyat Indonesia untuk memberi informasi atau semangat perjuangan melawan para penjajah. Tak terkecuali di Surabaya, berdasarkan pengakuan langsung oleh mantan pejuang kemerdekaan yang kini tinggal di Asrama Veteran., dalam pengakuannya Amari (82) menerangkan, Sebelum mendengar Ir.Soekarno telah memproklamirkan kemerdekaan, dia mendengar dari Pimpinan PETA terlebih dahulu kabar di Bom atomnya Nagasaki dan Hiroshima.

Sebenarnya pada 17 Agustus 1945 sudah sebagian penduduk Surabaya mengetahui kabar kemerdekaan tersebut, Namun Teks proklamasi baru kita dengarkan di Surabaya sekitar pukul 4 sore. “Waktu itu, saya beserta warga Surabaya mendengar pidato Bung Karno sore hari,” tutur Ismunandar yang saat itu sebagai pejuang. Ismunandar bercerita kala itu, rakyat hanya mendapat infomasi dari Radio, mendengar kabr itu keesokan harinya para pemuda Arek-arek Suroboyo bertindak untuk mengusir penjajah .

Radio di Surabaya

Kantor berita Radio di Surabaya yang saat itu masih di bawah kendali Jepang dan bernama Nirom berfungsi sebagai komunikasi antara setiap wilayah jajahan yang ada di Indonesia dan juga untuk Propaganda penduduk Surabaya. Salah satunya mempropaganda penduduk dengan menyatakan “Kemerdekaan itu tidak enak, sengsara, karena kamu akan bertanggung jawab atas hidupmu sendiri”.meskipun mayoritas penduduk Surabaya berjenjang pendidikan hanya lima tahun.
Propaganda itu mentah tak terjamah, seakan menjadi sampah dan berbalik menjadi pelecut semangat pemuda Surabaya. Radio di Surabaya menjadi harapan dan alat perjuangan, bergerilya di udara. Mencari-cari celah, lalai lengah penjajah. Hal yang unik menjadi strategi para arek-arek suroboyo ialah sebuah radio yang disebut radio bekupon yang diletakan di pusat keramaian seperti di pasar.
“Di sebut radio bekupon karena bentuknya memang seperti bekupon doro, di letakan di atas. Jadi semua orang bisa dengar,” ujar Ismunandar, mantan pejuang angkatan laut ini pada Acta Surya. Lokasi Radio bukupon berada di Jalan Pemuda Surabaya yang saat ini menjadi Kantor RRI (Radio Republik Indonesia). Salah satu bukti sejarah lain, tempat pemancar Radio di Jalan Embong Malang yang sepanjang Era berganti selalu beralih fungsi, dan sekarang menjadi area parkir mall.