actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»SENI BUDAYA»Lingkar Srawung di Bandung
SENI BUDAYA

Lingkar Srawung di Bandung

redaksiBy redaksi30 Agustus 2009
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

“Manusia butuh Cinta” itulah yang diutarahkan M.Saputra Hadiarsa selaku Sutradara untuk mencerminkan naskah Teaternya. Bertempat di Gedung Teater STBA YAPARI ABA Bandung, Teater Lingkar manampilkan performancenya dengan judul Srawung. Rabu Malam (29/07)

Srawung yang artinya berkumpul menggambarkan pentingnya rasa solidaritas antara manusia dengan manusia lainnya. Terbukti atas kerjasama yang baik antara Teater Lingkar Surabaya dengan Teater Ungu Bandung, pentas ini terselengara sesuai dengan skenario.

Dalam Sipnosisnya terdapat tiga karakter inti dengan watak berbeda Bambang, Maia dan Halidah. Mereka berkumpul dalam suatu tempat yang dinamakan “Neraka”, pada kenyataanya Neraka adalah orang lain, untuk mengatasi hal itu ialah dengan Srawung. Memahami dan mengerti keadaan orang lain, maka akan menimbulkan rasa Ikhlas yang pada akhirnya menjadi Surga.

“ Naskah ini sangat menarik, membuat orang berpikir kritis dalam menyikapi masalah” tutur Zhu Khi Thian salah seorang Teaterawan (sebutan Pecinta Teater) dari Mainteater Bandung. Selain itu, dalam pementasan, untuk menghindari ketidakpahaman penonton awan atas cerita. Penulis Naskah menampilkan adegan pembuka dengan metode bahasa verbal yang mudah dimengerti. Sebab segmentasi pasarnya mencakup untuk kalangan umum, bukan Teaterawan saja.

Di akhir acara Teater lingkar mengadakan diskusi bersama Pecinta Teater yang hadir di malam itu. Hasil Diskusi tersebut dijadikan bahan dan bekal untuk Penampilan selanjutnya di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya pada tanggal 08 Agustus 2009 nanti.


 

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”

12 November 2025

Tak Seperti Tahun Lalu, Aliansi Mahasiswa Adakan Bazar Ormawa di Luar Kampus

12 November 2020

KIBAS Gelar Pameran Daring “Batik Gendongan Jawa Timur” Khas Madura

24 Oktober 2020

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.