actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»FEATURES»Kurang Meratanya Peran Pemerintah Terhadap Dunia UKM
FEATURES

Kurang Meratanya Peran Pemerintah Terhadap Dunia UKM

redaksiBy redaksi6 Maret 2016
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

actasurya.com – Sidoarjo Kota UKM, begitulah julukan Kota Udang itu sekarang. Mempunyai peran besar di berbagai bidang bisnis Usaha Kecil Menengah (UKM), kota ini terlihat begitu sukses membawa para industri kecil merangkak naik dalam pengembangan usaha yang menjanjikan.

Namun tidak semuanya dirasa baik bagi para penggiat industri kecil ini, H.Miftah misalnya, ia merasa hal ini berbanding terbalik dengan usaha batik yang digelutinya di Kampoeng Batik Jetis.

Ia merasa peran pemerintah kurang begitu dirasakan di usaha batik miliknya, terkait penyebutan Sidoarjo sebagai Kota UKM. Dampak yang dirasakan sekarang justru bisnis batiknya menurun hingga 50%. Hal ini ditengarai oleh pengembangan usaha batik kini sangat sepi peminat dan juga dari segi pemasarannya yang kurang.

“Keadaan yang membuat seperti ini, tidak bisa dipungkiri lagi. Peran pemerintah juga tidak begitu terpengaruh, tidak adanya pelatihan untuk mengembangkan usaha batik, rata-rata mereka yang usaha batik tulis sekarang berdiri sendiri-sendiri untuk mengembangkan bisnisnya,” ujarnya.

Berbeda ketika jabatan Bupati Sidoarjo diemban oleh Win Hendrarso, yang menyediakan banyak sekali pelatihan dan pengembangan di bidang usaha batik. Hingga membuat perkumpulan untuk bertukar pikiran mengenai batik tulis. Namun saat ini, perkumpulan yang dulunya berjaya kini hanya tinggal nama. Pemerintah dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) juga dinilai kurang memperhatikan pengusaha seperti Miftah ini, yang mana sudah 40 tahun lebih menjadi pengrajin batik.

“Tidak terlalu berharap dengan pemerintah saat ini, karena ya sudah keadaannya seperti ini. Tapi jika nantinya ada upaya dari pemerintah ya dilihat lagi, dan kemungkinan sangat mendukung sekali,” tegas H. Miftah sembari tersenyum. (N/F: Haris,Hening/Haris)

batik Disperindag kota udang penggiat industri Sidoarjo Win Hendrarso
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Laboratorium Jurnalisme di Kampus Wartawan

29 April 2024

Sukses Gelar Konser di Jakarta, NCT 127 Beri Pengalaman Tak Terlupakan Bagi NCTzen

16 Januari 2024

30 Tahun Mengabdi untuk Stikosa-AWS, Zainal: Jadilah Orang yang Bermanfaat

8 Desember 2023

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.