KULINER EKSTRIM

Hangatnya daging cobra, dan dibalut dengan manisnya kecap sangat pas jadi alternative kuliner malam hari.

Mendengar kata ekstim apa yang ada dibenak anda ?? pasti sesuatu yang memacu adrenalin bukan.!! Yups benar saja ,, kali ini ada yang ekstrim di bidang kuliner. WARUNG EKSTRIM Kuliner menjajahkan makanan yang tidak biasa, yakni berbahan dasar dari hewan reptil .

Bertempat di jalan Gubeng Masjid tikungan pojok, terdapat warung yang menjajahkan kuliner yang tak biasa. Warung yang buka 24 jam ini menyediakan berbagi macam menu kuliner ekstrim terutama berbahan dasar hewan reptil.

Agus Brewok pemilik warung, mengaku memulai bisnis kuliner ekstrim ini berawal dari hobinya memelihara hewan berbisa semenjak kecil. Dari situlah Agus melihat ada potensi ekonomi yang bisa dihasilkan dari hewan melata tersebut. Mulailah membuka warung kuliner ekstrim 22 tahun yang lalu.

Awalnya dia membuka lapak di sekitaran hotel Sahid sekitar tahun 1991, dan sejak tahun 2009 pindah di gubeng masjid sampai sekarang. Tidak hanya dibidang kuliner saja, pria tambun ini juga menjual minyak oles seperti minyak lintah, minyak bulus dll. Tentunya mempunyai kegunaan yang berbeda mulai dari memperbesar alat vital pria, mengencangkan kerutan kulit, sampai memperbesar payudara.

Dari menu kuliner yang ditawarkan ada cobra, codot, biawak, lintah, tokek, bulus, dan kalong. Dimana dari bahan tersebut bisa dimasak menjadi sate, rica rica, dan abon. Proses pembuatan sate cobra sendiri tak jauh beda layaknya sate pada umumnya, yang mebedakan sate cobra dengan sate lainya adalah dari segi penyajian.

Setelah proses pembakaran selesai, sate cobra disajikan disebuah piring, dan dilamuri dengan kecap manis, tanpa bumbu kacang pun begitu dengan lalapan. Tapi jangan kecewa dahulu, justru disinilah sensasi kenikmatan daging dapat dirasakan sepenuhnya.

Daging yang empuk,tak berserat dan potongan daging yang besar, ditambah legitnya kecap manis tentu menggiur selera bagi pecinta kuliner ekstrim khususnya kuliner reptil. Untuk sepoorsi sate cobra  dihargai RP 35000.

Ditanya waktu-waktu tertentu tentang keramaian warungnya, Agus menjawab jika itu sama sekali tidak tentu, kadang ramai di pagi hari kadang juga tidak jarang ramai di tengah malam. “kapanpun itu yang penting saya siap melayani mereka,” papar Agus Brewok.

Agus juga menuturkan para pelanggannya tak hanya datang dari wilayah Surabaya saja, ada juga dari luar pulau bahkan luar negeri.” Sampean cari diseluruh Surabaya gag ada mas, warung saya ini satu satunya di kota pahlawan” imbuhnya.

Pria asal jogja ini mengaku mendapatkan stok hewan reptile dari jogja, “ini yang ngirim stok adik saya mas dari jogja” begitu tuturnya.

Proses penyembelihan ular cobra. ular diambil dari kandangnya, kepala ular dijepit menggunakan kliper, lalu dipotong menggunakan gunting tepat diantara kepala dan badan ular. Seteleh terpotong, kulit ular dipisahkan dengan daging nya. kemudian daging ular dipotong- potong bentuk dadu. setelah  dipotong daging tersebut ditusuk  seperti sate pada umumnya. kemudian sate ular cobra siap untuk dibakar.

Ketika ditemui, aditya salah satu pengunjung  warung kuliner ekstrim. Mengatakan sensasi daging ular di warung agus bewok lumayan enak ,dagingnya empuk dan tidak menghilangkan bau khas dari daging ular cobra.

naskah dan foto: poundra