Inspirasi yang Tak Kenal Batas

actasurya.com – “Pok ame-ame belalang kupu – kupu, Siang makan bubur kalau malam minum susu.”

Rangkaian kalimat menyatu dengan nada yang cukup lama terngiang di kepalannya.

“Nina bobok, oo… nina bobok, kalo tidak bobok digigit nyamuk.”

Berulang kali malam-malam masa kecil Budi diancam dengan gigitan nyamuk.

Itulah salah satu penggalan puisi karya Syarif W.B berjudul Ini Budi yang kerap dipanggil oleh teman-temannya sebagai Bang Tebo. Peluncuran bukunya yang bertajuk Sepanjang Kayuh ini, merupakan  kumpulan karya-karya  puisinya  dari tahun 2006 sampai  2017.

Acara bertema “Launching Buku Sepanjang Kayuh” itu diselenggarakan di warung Mbah Cokro. Warung ini merupakan tempat nongkrong yang berlokasi di daerah Prapen, Surabaya. Ia sebenarnya juga pernah membuat buku-buku lain, namun kala itu Syarif masih berkolaborasi dengan banyak orang lain dalam buku-bukunya.

Berbeda dengan hal tersebut, buku ini merupakan karya tungal miliknya  yang berisikan 55 karya puisi hasil ciptaannya sendiri. Dalam pembuatan buku Sepanjang Kayuh tersebut, Syarif W.B mengatakan bahwa ia banyak mendapat inspirasi dari kesehariannya. Misalnya ketika momen ia berkumpul dengan senior, orang tua ataupun saat mendengar curahan hati seorang teman. Waktu kebersamaan itu menginspirasinya ditambah faktor-faktor dari luar yang tiba-tiba memunculkan ide, untuk puisi yang ia persembahkan untuk-Nya.

”Tak jarang saat saya sedang berkendara sepeda motor, tiba-tiba menemukan ide. Saya langsung berhenti dan menulisnya di catatan supaya tidak lupa,” tutur Alumnus Stikosa – AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya) tersebut.

Buku Sepanjang Kayuh ini memiliki makna tentang proses perjalanan Syarif W.B dalam membuat puisi-puisinya. Buku itu bercerita segala hal dari saat ia mulai belajar hingga sekarang menghasilkan karya himpunan puisi yang dibuat selama 11 tahun.

BACA JUGA   Semarak Penampilan Tulus, Tutup Jatim Fair 2019

Diterbitkan oleh Pagan Press pada bulan Febuari 2017, kumpulan karya puisi ini memiliki total halaman berjumlah 100 buah. Dalam penyusunan buku tersebut memakan waktu sekitar satu bulan. Banyak sekali pihak yang terlibat dalam perancangan karya yang satu ini; seperti Andi Prayitni , X-Go, Cak Su, S. Jai dan Studio MotoGeni.

Tak ketinggalan pula bantuan dari rekan-rekan komunitasnya seperti Himmarfi (Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi), Teater Lingkar, Kopi Production, Bunuh Diri Serikat Mural, Grup Music, Halaman Pengelana serta senior-senior dari Syarif W.B yang ikut serta memeriahkan peluncuran buku Sepanjang Kayu. Buku ini awalnya dicetak sebanyak 30 eksemplar, serta dijual dengan harga bekisar Rp 40 ribu.

“Saya berharap, adanya buku saya ini dapat mengingatkan pembaca maupun diri saya sendiri untuk tak berhenti untuk menulis. Karena mungkin dengan tulisan kita dapat berguna untuk orang lain. Pepatah mengatakan ‘Tebarkanlah kebaikan meskipun hanya sebiji kacang maupun sebutir permen,” ungkap Syarif di penghujung pembicaraan. (N/F : Paulus, Andhi)