actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»FEATURES»Inspirasi yang Tak Kenal Batas
FEATURES

Inspirasi yang Tak Kenal Batas

redaksiBy redaksi18 Februari 2017
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

actasurya.com – “Pok ame-ame belalang kupu – kupu, Siang makan bubur kalau malam minum susu.”

Rangkaian kalimat menyatu dengan nada yang cukup lama terngiang di kepalannya.

“Nina bobok, oo… nina bobok, kalo tidak bobok digigit nyamuk.”

Berulang kali malam-malam masa kecil Budi diancam dengan gigitan nyamuk.

Itulah salah satu penggalan puisi karya Syarif W.B berjudul Ini Budi yang kerap dipanggil oleh teman-temannya sebagai Bang Tebo. Peluncuran bukunya yang bertajuk Sepanjang Kayuh ini, merupakan  kumpulan karya-karya  puisinya  dari tahun 2006 sampai  2017.

Acara bertema “Launching Buku Sepanjang Kayuh” itu diselenggarakan di warung Mbah Cokro. Warung ini merupakan tempat nongkrong yang berlokasi di daerah Prapen, Surabaya. Ia sebenarnya juga pernah membuat buku-buku lain, namun kala itu Syarif masih berkolaborasi dengan banyak orang lain dalam buku-bukunya.

Berbeda dengan hal tersebut, buku ini merupakan karya tungal miliknya  yang berisikan 55 karya puisi hasil ciptaannya sendiri. Dalam pembuatan buku Sepanjang Kayuh tersebut, Syarif W.B mengatakan bahwa ia banyak mendapat inspirasi dari kesehariannya. Misalnya ketika momen ia berkumpul dengan senior, orang tua ataupun saat mendengar curahan hati seorang teman. Waktu kebersamaan itu menginspirasinya ditambah faktor-faktor dari luar yang tiba-tiba memunculkan ide, untuk puisi yang ia persembahkan untuk-Nya.

”Tak jarang saat saya sedang berkendara sepeda motor, tiba-tiba menemukan ide. Saya langsung berhenti dan menulisnya di catatan supaya tidak lupa,” tutur Alumnus Stikosa – AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya) tersebut.

Buku Sepanjang Kayuh ini memiliki makna tentang proses perjalanan Syarif W.B dalam membuat puisi-puisinya. Buku itu bercerita segala hal dari saat ia mulai belajar hingga sekarang menghasilkan karya himpunan puisi yang dibuat selama 11 tahun.

Diterbitkan oleh Pagan Press pada bulan Febuari 2017, kumpulan karya puisi ini memiliki total halaman berjumlah 100 buah. Dalam penyusunan buku tersebut memakan waktu sekitar satu bulan. Banyak sekali pihak yang terlibat dalam perancangan karya yang satu ini; seperti Andi Prayitni , X-Go, Cak Su, S. Jai dan Studio MotoGeni.

Tak ketinggalan pula bantuan dari rekan-rekan komunitasnya seperti Himmarfi (Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi), Teater Lingkar, Kopi Production, Bunuh Diri Serikat Mural, Grup Music, Halaman Pengelana serta senior-senior dari Syarif W.B yang ikut serta memeriahkan peluncuran buku Sepanjang Kayu. Buku ini awalnya dicetak sebanyak 30 eksemplar, serta dijual dengan harga bekisar Rp 40 ribu.

“Saya berharap, adanya buku saya ini dapat mengingatkan pembaca maupun diri saya sendiri untuk tak berhenti untuk menulis. Karena mungkin dengan tulisan kita dapat berguna untuk orang lain. Pepatah mengatakan ‘Tebarkanlah kebaikan meskipun hanya sebiji kacang maupun sebutir permen,” ungkap Syarif di penghujung pembicaraan. (N/F : Paulus, Andhi)

 

Sepanjang Kayuh stikosa-aws Syarif WB warung mbah cokro
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Laboratorium Jurnalisme di Kampus Wartawan

29 April 2024

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Presbem Bobby: Fokus Mencari Dokumen yang Hilang

17 Januari 2024

Sukses Gelar Konser di Jakarta, NCT 127 Beri Pengalaman Tak Terlupakan Bagi NCTzen

16 Januari 2024

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.