actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»SENI BUDAYA»Heboh Papua
SENI BUDAYA

Heboh Papua

redaksiBy redaksi7 Februari 2010
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Heboh Papua: Perang Rahasia, Trauma dan Separatisme

oleh: Amiruddin Al Rahab

Penerbit : Komunitas Bambu
Edisi : Soft Cover
Tgl Penerbitan : 2010-01-20
Bahasa : Indonesia
Halaman : xxvi + 230
Ukuran : 140x210x0

 

“Heboh Papua, apa yang terjadi?”

Sejak bergabung dengan Indonesia tahun 1963, sampai saat ini Papua dihebohkan dengan pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Meski dua pemimpin besarnya, Theys H Eluay dan Kelly Kwalik telah terbunuh dalam insiden genjatan senjata dengan TNI pada November 2001 dan akhir 2009.

Akar kelahiran gerakan OPM disinyalir timbul akibat realitas kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan, serta perbagai pelanggaran HAM yang masih merajalela di tanah Cendrawasih.

Oleh karena itu, menurut Amiruddin al Rahab, dalam buku Heboh Papua ini, gerakan separatisme yang terjadi di Papua menarik untuk dicermati karena berbagai alasan.

Saat ini, Papua sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang proses integrasinya melalui mekanisme internasional dengan penentuan jajak pendapat.

Gerakan separatisme di Papua menunjukkan watak gabungan antara pemahaman tradisional suku-suku atau cargo cult (ratu adil) yang meyakini akan datang hari bahagia di masa datang dengan simbolisasi pemujaan terhadap koreri atau bintang kejora dan orang-orang yang terdidik secara modern.

Didalam buku Heboh Papua ini, penulis mencoba menghadirkan dimensi yang sensitif dan disembunyikan dari kehidupan politik dan pemerintahan kita. Dan juga, pembaca tidak hanya semata-mata menbaca tulisan tentang Papua, jika benar-benar dicermati , buku ini akan membantu untuk memahami Papua dan berbagai polemik didalamnya.

Buku ini juga menunjukkan arahan agar masalah Papua tidak sekedar ” Heboh Papua” tapi suatu masalah yang bisa dicarikan solusi secara komperhensif.(N. Lina)

(sumber: www.koran-jakarta.com ; www.bukabuku.com)

 

 

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”

12 November 2025

Tak Seperti Tahun Lalu, Aliansi Mahasiswa Adakan Bazar Ormawa di Luar Kampus

12 November 2020

KIBAS Gelar Pameran Daring “Batik Gendongan Jawa Timur” Khas Madura

24 Oktober 2020

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.