Desain Filosofis Masjid Cheng Hoo Surabaya

actasurya.com – Masjid Cheng Hoo Surabaya ini berdiri di atas lahan seluas 3.070 meter persegi. Secara keseluruhan, masjid ini berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama 11 x 9 meter. Memang bangunan masjid ini cukup unik. Pasalnya, pada sisi kanan-kiri bangunan utamanya, terdapat bangunan pendukung, yang mana posisinya lebih rendah.

Adapun dari bagian-bagian masjid ini mengandung arti filosofis yang bisa ditangkap. Dimulai dari ukuran bangunan utama. Panjang 11 meter yang berarti ukuran panjang dan lebar berarti ukuran panjang dan lebar yang digunakan oleh Nabi Ibrahim AS dalam membangun Kakbah pertama kali. Sedangkan lebar 9 meter menunjukkan jumlah Walisanga yang menyiarkan Islam di tanah Jawa.

Sebagaimana masjid yang didirikan oleh muslim Tionghoa memiliki identitas tersendiri terutama dalam arsitekturnya. Bentuknya menyerupai model kelenteng. Atapnya mengerucut bertingkat tiga dengan ujungnya lafaz Allah. Dengan dominasi cat merah, kuning dan emas. Dindingnya yang berpola bata.

Lalu di sisi utara masjid, terdapat kolam ikan yang di atasnya ditambahkan mini kapal dan ditambah relief penggambaran dari perjalananan Laksamana Cheng Hoo dalam berlayar. Relief ini memilik pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia pada khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam. Sementara terdapat juga bedug yang menggantung.

Selain itu, bagian atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (pat kwa), angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut Fat yang berarti jaya dan keberuntungan.

Dalam kisah Rasul, ketika Rasulullah Muhammad SAW melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau dikejar oleh para kaum kafir Quraisy dan bersembunyi di dalam Gua Tsur. Saat memasuki gua itu, terdapat ruamah laba-laba yang bentuknya seperti segi 8. Rasulullah tidak ingin merusaknya. Lalu beliau memohon kepada Allah agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari kejaran kaum kafir. Dengan izin-Nya, Rasul dapat bersembunyi dalam gua tanpa harus merusak sarang laba-laba itu dan juga lolos dari kejaran.

BACA JUGA   Semanggi Mak Haji, Mantap di Hati

Adapun, di bagian depan mihrab, tempat imam dan khotib, sengaja dibentuk seperti pintu gereja. Ini menunjukkan bahwa islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Itu juga menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain. (N/F: Fahmi)