Butiran Asa Penambang Pedel

Keberadaannya jauh dari pengamatan mata. Penambang Pedel nyaris semua orang tidak mengetahuinya. Berlokasi di Desa Tugu, Lamongan di sanalah penduduk setempat mencari rejeki dengan menambang pedel (tanah halus).

Berbekal alat tambang seadanya, seperti palu, betel, linggis, sekop, dan cangkul para penambang mengais lahan pedel di sekitaran aliran sungai Brantas.
Hidupnya memang bersinggungan dengan mata air, dan nasibnya pun bergantung pada butiran-butiran pasir. Belum lagi keringat bercucuran yang selalu menghiasi tubuh mereka, seakan tak sebanding dengan rejeki yang diperoleh. Padahal, upah yang didapat saja tak lebih dari Rp. 18 ribu per truk. Biasanya, sehari ada tiga sampai empat truk pengangkut pedel.

Di aliran sungai dekat Desa Tugu terbagi dua sentra lahan. Pertama daerah dengan lahan rata. Di sinilah lokasi primadona sang penambang, karena lokasinya cukup memudahkan untuk mendapatkan hasil tambang. Berbeda dengan lahan yang kedua. Dipenuhi gunungan batu untuk mendapatkan hasil tambang harus bersusah payah mencongkel tumpukan batu agar longsor terlebih dulu.

Mengenai aktifitas penambang pedel, biasanya mereka mulai dari pagi hingga siang hari. Setelah itu mereka istirahat, untuk kemudian dilanjutkan bekerja pada sore harinya hingga matahari tenggelam.

Naskah dan Foto : Wahyu Triatmojo