Buah Tangan Negeri Majapahit

Agar tak pulang dengan tangan hampa, jangan lupa membawa batik khas Mojokerto.

Ragam dinamika budaya Mojokerto yang kental dengan nuansa Majapahit memang sulit dilupakan. Banyaknya candi, petilasan, dan makam raja Majapahit adalah sebagai bukti kota yang memiliki luas daerah 16,46 kilometer persegi ini layak disebut sebagai kota Budaya.

Tujuan wisata bahkan terus dipoles, dikemas apik, agar menjadi jujukan wisatawan. Tujuannya jelas, meninggalkan kenangan setiap kali meninggalkan kota yang dikenal sebagai kota penganan onde-onde itu. Banyak hal yang dapat dijadikan buah tangan. Satu di antaranya berupa batik.

Corak kain yang juga merupakan karya peninggalan leluhur negeri ini, juga dimiliki oleh Mojokerto. Motif khasnya adalah buah Mojo. Motif yang sama, juga merupakan corak khas di jaman Kerajaan Majapahit. Buah Mojo itu yang membedakan batik Mojokerto dengan batik-batik dari kota lain. Meski begitu, pengrajin batik Mojokerto tak hanya bertumpu pada motif buah Mojo saja. Para pengrajin terkadang berkreasi dengan memodifikasi motif buah Mojo, dengan motif lain. Tergantung permintaan pasar.

Sayangnya, sekitar tahun 1992-an pemerintahan kota Mojokerto, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) telah menetapkan motif-motif yang harus digunakan para pengrajin batik di Mojokerto. Yaitu Koro Renteng, Pring Sedapur, Rawan Inggek, Bunga Matahari, Sisik Grising, dan Merico Bolong.

Kendati demikian sebagian pengrajin batik masih menggunakan motif buah mojo dalam karyanya. ”Terkadang kami mendapatkan pesanan motif buah mojo dan itu tidak bisa ditolak,” kata Hindun(41) pemilik gerai batik “Sekar Arum”.***

Ernawati, Sang Pengrajin Batik Mojokerto

Julukan sebagai kota sentra budaya seperti Mojokerto, membawa konsekuensi tersendiri. Selain harus menonjol dalam hal perkembangan budaya, semua yang khas dari kota ini pun harus tampil ke permukaan.

Seperti dalam hal cindera mata, misalnya. Tidak sedikit orang bertanya, apa buah tangan khas Mojokerto? Ernawati salah satu warga Mojokerto yang “terganggu” dengan hal itu. Berbekal bakat menggambar dan membatik yang dimilikinya sejak kecil, perempuan asli Mojokerto itu ingin memunculkan kembali kekhasan kota asalnya. “Akhirnya, corak Mojo ini pilihannya,” kata perempuan yang akrab dipanggil Erna itu.

Ketertarikan perempuan pengrajin batik tulis Mojokerto di dunia batik-membatik, berawal dari seringnya Erna mendampingi sang ibu, Karmu’ah saat membatik. Dengan tekun, Erna muda melihat ibunya yang kini berusia 55 tahun itu menggoreskan canting. Entah mengapa, ada dorongan dari dalam diri Erna untuk mulai belajar menggambar.

Tidak berhenti disitu, untuk menambah ilmu, Erna mulai menggambar di atas kain putih. Singkat kata, Erna pun mulai berani menggoreskan malam panas dalam canting di atas sehelai kain putih yang sudah bermotif. Jadilah beberapa karya batik khas Mojokerto.

Tak berhenti sampai di situ, Erna juga berguru kepada ibunya mengenai pengolahan lanjutan. Seperti pewarnaan, pencucian, hingga penjemuran. Biasanya, kain batik di jemur di tempat yang teduh dan berangin. Dirasa karyanya cukup baik, Erna mulai menawarkan batik miliknya ke beberapa konsumen. “Responnya pun cukup lumayan,” kata Erna.***

Proses Rumit Sebuah Batik

Ibarat mahakarya bernilai tinggi, Batik Mojokerto membutuhkan berbagai proses yang luar biasa rumit. Hmm…

Menghasilkan sebuah batik tulis khas Mojokerto berkualitas tinggi, setidaknya butuh waktu pengerjaan lima hari. Itupun, bila dikerjakan oleh delapan orang pengrajin. Namun, hal itu masih tergantung pada motifnya.

“Lama waktu dalam pembuatannya tergantung motif yang dibuat serta kain yang akan dipoles dengan malam,” terang Ernawati, pengrajin batik. Proses pembuatannya pun sama dengan batik-batik lain. Mulai dari penggambaran kain di atas kertas yang sudah bermotif, penyantingan (pembatikan) dan pewarnaan. Setelah itu, penggodokkan batik menggunakan air bersuhu di atas 100 derajat celcius.

Proses panjang berakhir di pengeringan alami. Artinya batik tersebut diangin-anginkan, dan menghindari panas terik matahari. Untuk pewarnaannya pun tidak bisa sembarangan. Cairan soda dan TRO (sejenis Naptol, red) digunakan sebagai zat pewarna buatan.

Ragam produk yang dihasilkan pun bervariasi. Tidak hanya selembar kain batik saja. Bisa berupa kain panjang (sal), kemeja, scraf, dasi, tempat pensil (tepak, red), dan tak ketinggalan tas-tas yang bermotifkan batik tulis asli Mojokerto.

Disinggung mengenai pemasaran batik-batik tersebut, Ernawati mengaku menangani sendiri pemasarannya. Erna dan pengrajin-pengrajin batik lainnya merasa cukup puas dengan adanya pengakuan dari wilayah lokal (daerah), nasional, serta internasional mengenai keberadaan kerajinan batik tulis di Mojokerto.

“Impian Saya selama ini adalah batik Mojokerto dikenalnya Batik Mojokerto oleh semua orang,”ungkapnya. Melihat persaingan industri batik tulis yang semakin ketat, terlihat dengan menjamurnya para pengrajin kesenian yang mulai bermunculan dengan tatanan beranekaragam.

Dari sinilah para pengrajin batik tulis harus mampu menggenjot kinerjanya agar tak tergerus kemajuan jaman. Tentuya, dengan hasil imajinasi dan kreatifitas yang dinamis dalam memainkan corak, warna, dan bahan lewat canting.***

Naskah : Andrian Saputri, M.Ridlo’i | Foto : Wahyu Triatmojo