Di bawah terik matahari Surabaya yang seakan membakar kulit, alunan kicau burung terdengar saling bersahutan. Senantiasa menemani ratusan pengunjung pasar burung, Kupang siang itu, menyulap suasana menjadi sejuk.

Minggu (4/4), suasana pasar burung sama seperti hari Minggu biasanya. Selalu penuh, bahkan membeludak ke bahu jalan Diponegoro. Tak jarang hingga menimbulkan kemacetan. Lebihnya jumlah peserta transaksi (penjual dan pembeli) yang tak sebanding dengan lahan yang tersedia menjadi penyebabnya. Karena bisa dibilang pasar burung merupakan pasar liar.

Namanya saja, pasar burung. Sepanjang mata memandang selalu terlihat burung dan sangkar yang terpampang di setiap lapak. Namun tak hanya itu, jika masuk lebih dalam, Anda dapat temukan penjual reptil. Seperti tokek dan kadal.

Tokek dan kadal, salah satu spesies reptil ini begitu bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Seperti kudis, bisul, gatal-gatal karena alergi, dan koreng. Di pasar tersebut tersedia tokek dengan berbagai ukuran. Tentu harga untuk setiap ukuran berbeda-beda. Untuk yang kecil dan sedang dengan ukuran sebesar tiga buah jari orang dewasa, dipatok harga 5.000 hingga 20.000 rupiah. Anda bisa mengeluarkan kocek hingga ratusan ribu untuk ukuran yang lebih besar.

Cara mengkonsumsi tokek dan kadal bisa digoreng atau dibakar. “Akan lebih mujarab kalau dibakar,” ujar Husein salah satu penjual tokek di tempat itu. Bagi yang doyan, akan lebih memilih tokek dari pada kadal, karena tingkat kemujarabannya lebih baik.

Bocah laki-laki berusia 14 tahun ini mengaku, selain untuk obat, pembeli biasanya menjadikan tokek sebagai hewan peliharaan. “Tokek Albino sering dicari pembeli untuk dijadikan peliharaan, harganya bisa mencapai ratusan juta per ekor.” imbuhnya.

Untuk mendapatkan hewan melata ini, Anda dapat memburunya setiap hari dari jam tujuh pagi hingga lima sore. Kecuali Jumat, tutup.

subagus indra | actasurya.com