actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»SENI BUDAYA»Berawal dari Lubang Jarum
SENI BUDAYA

Berawal dari Lubang Jarum

redaksiBy redaksi7 April 2010
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Rabu (7/4) siang, pusat kebudayaan Perancis CCCL jalan Darmo kali 10 Surabaya, kembali menggelar pameran fotografi. Kali ini giliran Komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Malang, yang memamerkan hasil karya mereka.

Acara yang dihadiri oleh pelopor kamera lubang jarum di indonesia , Ray Bachtiar tersebut menjelaskan tentang sejarah fotografi yang berawal dari kamera lubang jarum.
Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab mengenai teknik penggunaan kamera tersebut. Setelah itu kita diajak menyaksikan pameran foto lubang jarum yang dibuka 8 – 17 April 2010. Dalam pameran tersebut mereka menghadirkan angle bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kota dan kabupaten Malang. Tentunya, dengan menggunakan media kamera lubang jarum. Tujuannya agar penikmat foto dapat melihat obyek dalam bingkai seperti masa lalu, walaupun pengambilannya dilakukan masa kini.
Selain melihat beberapa foto, dijelaskan pula mengenai teknik pengambilan gambar dan tingkat kesulitannya. “Harapan saya, pada pameran ini generasi muda mau dan tidak melupakan sejarah fotografi i,“ ujar Ray Bachtiar
(N/F Gilang Budi Raharja)


 

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”

12 November 2025

Tak Seperti Tahun Lalu, Aliansi Mahasiswa Adakan Bazar Ormawa di Luar Kampus

12 November 2020

KIBAS Gelar Pameran Daring “Batik Gendongan Jawa Timur” Khas Madura

24 Oktober 2020

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.