Beralih Menuju Era Jurnalistik Visual

actasurya.com – “Kenapa kamu tertarik menjadi seorang fotografer?”

“Karena keren, Pak”.

Begitulah obrolan antara Hendro Dwi Laksono dengan mahasiswanya beberapa tahun lalu. Padahal, bila alasannya sekadar itu, masih banyak profesi yang lebih bagus lagi ketimbang menjadi seorang fotografer. Tapi ia tidak berpikir untuk membantah jawaban mahasiswanya. Bahkan, Hendro yang juga selaku Direktur Indonesia Images justru berusaha mencari tahu apa motivasi dari mahasiswanya tersebut.

Berdasarkan hasil dari kajian industri media yang beberapa kali dilakukannya, menemukan sebuah fakta menarik. Dalam 15 tahun terakhir ini, terdapat kecenderungan yang awalnya dari jurnalistik observatif menjadi jurnalistik visual. Inilah sebuah jawaban konkret mendominasinya stasiun televisi di Indonesia.

Begitulah yang disampaikan Hendro Dwi Laksono dalam sambutannya pada Forum Imaji Indonesia, Senin (14/12). Bertempat di Graha Wiyata Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, acara ini berlangsung sejak pukul 11.00 WIB. Acara ini merupakan hasil kerjasama antara Indonesia Images dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Untag. Sekaligus memperingati  dua tahun berdirinya Indonesia Images.

Hendro menceritakan, pada waktu pembacaan teks proklamasi dahulu, disebarkan cukup melalui radio dan media cetak saja. Namun hal ini tidak lagi berlaku sekarang. “Saya cukup terkejut. Setelah kejadian sebuah Lamborgini menabrak sebuah warung. Ada seorang user video yang meng-upload videonya. Ternyata dalam sehari saja, penontonnya mencapai lebih dari 10 juta,” jelasnya.

Fenomena ini menunjukkan, lanjutnya, masyarakat urban ini membutuhkan visual juga untuk meyakinkan suatu berita benar atau tidak.

Dalam rangkaian acara terbagi menjadi dua sesi. Pertama,  Presentasi Foto Jurnalistik “Perdagangan Sirip Hiu”, karya Fully Syafi, fotografer EPA (European Pressphoto Agency) dan kontributor indonesiaimages.net. Lalu dilanjutkan, dengan Diskusi “Masa Depan Foto Jurnalistik Indonesia” bersama Oscar Motuloh (GFJ Antara) dan Mamuk Ismuntoro (fotografer senior indonesiaimages.net, pendiri Komunitas Matanesia). (N/F: Fahmi/Wisnu)