Melukis Dengan Doa

actasurya.com – Wajahnya tampak keriput, kulitnya tak lagi bersinar. Di usianya yang mencapai 71 tahun, tak sedikit pun melunturkan semangatnya tuk berkarya. Menjadi pelukis spiritual ilahiyah, mampu membuatnya bertahan hingga detik ini.

Dia pemilik nama lengkap K.H.M.I.K. Ketut Sugama FGh.SH. Bila pada umumnya sebuah lukisan dikerjakan dengan kekuatan dan kadar seni manusiawi pelukisnya, hal ini tak berlaku pada lukisan Ketut. Dia tak pernah merasa menyelesaikan lukisannya secara total.

Ketut percaya, Tuhan-lah pelukis sebenarnya. Sedangkan dirinya hanya laksana alat lukis belaka. Maka, Ketut tak pernah mengakui lukisan-lukisan yang ia selesaikan sebagai karya lukisnya. “Tuhan-lah pelukis yang sebenarnya,” tutur pelukis beraliran impresionis ini.

Setiap Ketut hendak melukis, maka terlebih dulu ia berdoa pada Tuhan. “Ya Allah, Kau lah Pelukis yang sebenarnya, maka ku serahkan diriku raga, Qolbi dan Bathin untuk kau pakai menyelesaikan lukisan ini. Jadikanlah lukisan ini sebagai  muara dan saluran rahmat dan rezeki bagi pemiliknya, sehingga jauh dari penyakit, wabah dan musibah. Sebaliknya dekat dengan kesembuhan, sehat, laba, keuntungan dan rezeki.”

Hampir di setiap lukisan Ketut terselip dua surat, yaitu Ar-Rahman dan Al-Waqi’ah. Lukisan-lukisan Ketut bukan hanya sebagai penghias ruangan belaka. “Lukisan saya bukan sebagai penghias ruangan saja, seperti lukisan lainnya. Bisa sebagai penumbuh kehidupan dan keberuntungan, serta penumbuh rezeki atas seijin Allah. Bisa juga sebagai terapi ilahiyah, ” ujar pelukis yang juga juru dakwah ini.

Melukis sudah menjadi bagian dari kehidupan Ketut. Jauh sebelum Ketut masuk Islam, ia telah merintis nama besar sebagai pelukis cilik. Hingga kini, Ketut tetap menjadi pelukis, di samping berkonsentrasi menjadi Da’i. “Melukis dan berdakwah adalah dua sisi mata uang yang memiliki makna spiritual,” ucap pria yang berkediaman di Jalan Letjend Suprapto VI/68-71 Jember.

Karya lukis Ketut merupakan karya lukis teknik tingkat tinggi. Karena diselesaikan dengan pisau lukis, bukan dengan kuas. Goresannya pun lugas dan dinamis. “Coba pandang lukisan saya dengan konsentrasi lebih dari 15 menit. Kamu akan merasakan kesegaran jasmani, mental dan pikiran,” kata pria yang hobi olah raga golf.

Berangkat dari seorang mualaf yang mengikrarkan diri bersyahadat pada 1996, pria kelahiaran Bali itu muncul sebagai sosok baru yang khas dalam dunia dakwah.

naskah dan foto : Ayu Puspitaningtyas