Wisata Air Mancur Pemkot Surabaya

actasurya.com – Air mancur milik Pemkot Surabaya yang ada di depan Balai Kota jalan Walikota Mustajab Surabaya, kini tidak hanya terkesan menambah keindahan taman yang ada di sekelilingnya, namun juga menjadi arena bermain keluarga. Hal ini terliehat dari banyaknya anak-anak yang rata-rata masih balita rela berbasah-basahan untuk bermain air mancur tersebut. Sambil tertawa senang, mereka mengejar air mancur yang keluar bergantian di sana.

Inayatun salah satu warga Surabaya yang saat itu mengawasi anaknya bermain air mancur Kamis (5/6) mengungkapkan bahwa anaknya meminta berhenti karena ingin bermain air mancur karena di tempat itu sebelumnya terlihat beberapa anak yang juga bermain di sana.

”Anak saya suka dan ikut mandi air mancur. Ini kan hiburan tersendiri bagi anak saya, apalagi tidak dipungut biaya alias gratis. Orang yang berjualan pun juga tidak ada, sehingga sangat menghemat biaya. Tapi sayang, tempat parkirnya jauh dari air mancur,” ungkap Inayatun.

Untuk mengantisipasi agar buah hatinya tidak sakit setelah bermain air mancur pada malam hari, Inayatun mengaku selalu mengganti baju dan mengoleskan minyak kayu putih setiap kali anakna selesai bermain. Selain itu, perempuan berjilbab ini juga mengungkapkan harapan agar Pemkot Surabaya menambah objek air mancur. Karena selain gratis, tempat tersebut bisa menjadi jujukan wisata sewaktu-waktu.

Sementara itu, Irwansyah selaku Linmas yang pada saat itu bertugas di area itu mengaku tak melarang adanya anak-anak yang bermain air di sana. Menurut Irwansyah, pihaknya hanya bertugas menjaga keamanan di lingkungan Balai Kota dan mengatur para pengendara agar tidak berhenti di depan air mancur.

“Sejak awal dioperasikan, air mancur itu sudah banyak dilirik oleh anak-anak untuk bermain setiap malam. Sepanjang malam memang bisa ditemukan anak-anak mandi air mancur itu,” ucap Irwansyah.

Saat ditanya mengapa tidak ada pedagang yang menjajakan dagangannya di sekitar air mancur, Irwansyah mengatakan itu sudah ada peraturan dan memang dilarang.

“Jika ada pedagang berjualan di sini, masyarakat pasti jarang untuk membuang sampah di tempat sampah, melainkan dibuang di pojokan-pojokan taman atau di sela-sela tumbuhan,” tutup Irwansyah.

naskah : Dimas Aldama | foto : Haris Dwi