actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»BERITA»Warok dalam Dunia Para Wong
BERITA

Warok dalam Dunia Para Wong

redaksiBy redaksi12 November 2009
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Sabtu malam (07/11) pukul 19.00 di Gedung kesenian Cak Durasim beberapa kelompok teater menyuguhkan karyanya. Pagelaran teater sebagai rangkaian peringatan hari pahlawan 10 november 2009 diawali suguhan teatrikal bertema “Bumi Para Wong” oleh Teater Tiang dari FKIP Universitas Jember, Jember.

Pegelaran yang diperankan oleh sebelas orang tersebut menceritakan perubahan karakter seorang warok. Sejatinya warok memilki tabiat ksatria, sangar atau kekar, dan sangat terikat dengan dunia spiritual. “sejak semua warok dinikahkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 80-an, dari situ terjadi perubahan pada diri pribadi para Warok”, tutur ferick yang memerankan tokoh wong Laga (logo, jawa).

Perubahan yang terjadi pada Warok misalnya dalam menyikapi masalah. Jika dulunya dengan cara kesatria. Tidak demikian sekarang. Mereka para Warok cenderung pragmatis atau mencari jalan tengah, namun tidak meninggalkan nilai-nilai kewarokan.”kebiasan yang digunakan warok sekarang berbeda dengan dulu, tapi tetap tidak meninggalkan ciri khasnya” terang mahasiswa FKIP Universitas Jember tersebut.

Tambahnya pula, untuk melestarikan tradisi dan penerus Warok agar tidak punah. Mereka diperkenankan menikah. Dengan syarat pernikahan yang dilaksanakan tidak didasari keinginan nafsu atau hasrat seksual. Melainkan hanya terbatas bisa melahirkan seorang anak. Pasalnya, dahulu sebenarnya menikah adalah pantangan tersendiri bagi warok. Maka dari itu biasanya setiap warok memiliki gemblok atau ingon-ingon (murid atau anak asuh).”mereka sebagai pelampiasan sek sang Warok, namun itu bukan homo” Pungkas Ferick. (Naskahdan Foto : Robbah Mahzumi)







Mahasiswa Pers Surabaya
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik

14 November 2025

Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”

12 November 2025

Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital

5 Juli 2025

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.