actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»BERITA»Ternyata Gereja Tertua Jawa Timur Berada di Jombang
BERITA

Ternyata Gereja Tertua Jawa Timur Berada di Jombang

redaksiBy redaksi31 Mei 2015
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

actasurya.com – Jombang dikenal sebagai kota santri karena banyaknya pondok pesantren yang terletak di sana. Namun, siapa sangka bahwa sebenarnya di Jombang terdapat gereja yang disebut-sebut sebagai gereja tertua di Jawa Timur.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), adalah gereja yang terletak di Kecamatan Mojowarno, letaknya sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Jombang. Munculnya Gereja Kristen Jawi Wetan ini diprakarsai oleh Kasan Jariyo, yang kemudian juga menjadi pemimpin awal jemaat Kristen di Mojowarno.

Pembangunan gereja kuno ini dimulai sejak 24 Februari 1879. Setelah memakan waktu selama dua tahun pembangunan gedung gereja tersebut akhirnya rampung dan diresmikan pada 3 Maret 1881 dengan menelan biaya total sebesar 25.000 Gulden (mata uang Belanda). “Semua uang tersebut dikumpulkan dari penjualan hasil bumi oleh para petani dan masyarakat sekitar Mojowarno, secara sukarela,” ucap Djoko Purwanto, salah satu pengurus majelis GKJW.

Dari segi bangunannya, gereja seluas 2.537 meter persegi ini masih mempertahankan keasliannya. Benar saja, terlihat dari arsitekturnya masih kental bergaya kolonial saat masa penjajahan Belanda di Indonesia. Di dalamnya ada bangku-bangku panjang untuk peribadatan. “Usia bangku-bangku yang terbuat dari kayu jati ini hampir sama dengan pembangunan gereja, yang sudah lebih dari satu abad lamanya,” Kata Djoko,  sembari mengajak tim actasurya.com melihat sekeliling isi gereja. “Hanya saja ada beberapa yang rusak,” tambahnya.

Selain bangku-bangku tua, juga ada banyak lampu-lampu kuno yang tergantung, mimbar untuk khutbah, dan satu set gamelan (alat musik Jawa)  yang berda di sisi kanan mimbar. Selain unik, bentuk bangunannya, peribadatan di gereja ini juga digelar hanya menggunakan bahasa Jawa. Saat melantunkan lagu-lagu rohani, umat Nasrani juga menerjemahkannya dengan bahasa Jawa sembari diringi dengan alat musik gamelan.

Gereja ini juga mempunyai tradisi tahunan yang unik, yaitu unduh-unduh. Sebuah tradisi panen kaum tani yang sudah puluhan tahun menjadi agenda rutin di Mojowarno. Dalam tradisi unduh-unduh, ribuan orang tumpek-blek di sini menyaksikan acara arak-arakan atau karnaval dengan hiasan barang bawaan berupa hasil bumi, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pada Tuhan. Acara ini biasanya dilaksanakan pada awal bulan Mei.

Kendati berlokasi di Jombang, yang terkenal sebagai Kota Santri, di Mojowarno justru dihuni oleh mayoritas umat Nasrani. Namun kehidupan masyarakatnya berlangsung damai, rukun dan saling bertoleransi. Lokasi GKJW Mojowarno juga tak jauh dari makam mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pondok Pesantren Tebuireng, yang jaraknya tak sampai lima kilometer. N/F : Farid

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik

14 November 2025

Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital

5 Juli 2025

Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital

23 Desember 2024

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.