Refleksikan Peristiwa 10 November Lewat Parade Surabaya Juang

Actasurya.com – Aksi pertunjukkan teatrikal kolosal yang dibawakan oleh komunitas pecinta sejarah dari seluruh Indonesia yang tepat di depan Tugu Pahlawan Surabaya ini, menjadi pembuka Parade Surabaya Juang 2019. Lengkap dengan aksesoris senjata, suasana menjadi tegang dan haru saat pidato menggelegar Bung Tomo yang diputar beserta ledakan yang menggambarkan suasana pertempuran.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,” pekikan suara Takbir tersebut keluar dari mulut para pemeraga aksi teatrikal, yang artinya Pasukan arek-arek Surabaya telah berhasil memukul mundur para penjajah. Lalu berakhir dengan penyerahan Bendera Merah Putih yang diwakili Oleh Olivia Zalianty kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

Acara yang rutin digelar dalam memperingati Hari pahlawan ini, diikuti sekitar 3.000 peserta. Parade Surabaya Juang ini diberangkatkan dari area Monumen Tugu Pahlawan Surabaya dan akan finish di Taman Bungkul. Sebelum peserta Parade diberangkatkan, Tri Rismaharini menyampaikan sambutan kepada masyrakat Surabaya.

Dalam sambutannya, Risma mengingatkan seluruh masyarakat Surabaya. Bahwa dulu di masa perjuangan, seluruh masyarakat pun bersatu hingga tak membeda-bedakan

“Saat berjuang, para pejuang tidak membeda-bedakan siapa dia, siapa saya. Karena itu, mulai sekarang kita jangan mudah terprovokasi untuk dipecah belah. Karena saat kita berjuang bersama-sama. Namun kenapa kita harus terpecah belah saat kita sudah merdeka,” ujar Walikota Risma

Parade Surabaya Juang tahun ini mengambil tema “Wira Bangsa” yang memiliki arti pahlawan bangsa. Tujuannya di momentum Hari Pahlawan ini bisa menginformasikan nilai-nilai kepahlawanan dan semangat kebangsaan kepada generasi muda.

“Saya ingin seluruh warga Surabaya Ayo kita tunjukan bahwa arek-arek Suroboyo adalah anak yang akan menjadi teladan seluruh bangsa dan negara kita arek-arek Suroboyo adalah pejuang yang tidak pernah kenal putus asa,” pesan Risma.

Parade Surabaya Juang ini menempuh rute berjarak 6,5 kilometer. Beberapa titik yang dilalui para peserta parade, merupakan tempat-tempat yang kental nilai sejarah. Sebut saja Gedung Siola, Hotel Mojopahit, tempat perobekan Bendera Belanda, Gedung Grahadi, Tugu Bambu Runcing dan Polisi Istimewa-Santa Maria.

Sepanjang jalan Walikota Risma yang menaiki tank ini menyapa warga Surabaya yang menunggu di sepanjang rute Parade Surabaya Juang,  sembari berkata “Merdeka , Merdeka”

Sementara itu di Gedung Sioal, Olivia Zaliaty  membacakan puisi berjudul Surabaya,  Karya KH. Mustofa Bisri yang kerap di panggil Gus mus.

Setelah berhenti di sekitar jalan Tunjungan, rombongan Parade Juang  berjalan menuju Hotel Majapahit. Di atas kendaraan Panser Anoa, Tri Rismaharini membacakan puisi karya Gus Mus yang menceritakan tentang perjuangan pahlawan dalam pertempuran di Surabaya.  

“Surabaya adalah Kota Keberanian, Kota Kebanggaan” sepenggal puisi yang dibacakan oleh Risma.

Setiap kali pekikan takbir yang dibacakan oleh Risma alam puisi karya Gus mus ini, juga tampak disahuti oleh ribuan pasang mata warga Surabaya yang hadir memadati sepanjang area Jalan Tunjungan.

Warga terlihat antusias dengan gelaran acara ini, salah seorang warga yang ikut menyaksikan parade juang mengatakan, “Acara ini bersih, menarik, dan warga Surabayanya kompak.” Ujar Elina Siswi asal SMPN 29 Surabaya

“Untuk menumbuhkan rasa nasionslisme kita harus banyak membaca tentang sejarah kepahlawanan, khususnya di Surabaya,” imbuh Elina yang menyaksikan parade bersama keluarganya

Serangkain Acara Parade Juang berakhir di Taman Bungkul, sebelum sampai finish, Walikota Risma sempat menyerahkan senjata kepada salah satu perwakilan veteran. Parade ini pun di tutup dengan teatrikal Perebutan Jembatan Wonokromo oleh Roodebrug Soerabaia.

(N/F: Frd,wld,maxi)