Pesona Klenteng Mbah Ratu

actasurya.com – Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia selain menyugguhkan pesona gemerlap kotanya dan pesona belanja, juga memberikan ruang tersendiri bagi masyarakat untuk berwisata religi. Ketika sunan Ampel sudah menjadi ikon tersendiri dari kota Surabaya, maka mungkin pilihan lain yang ditawarkan oleh kota bersimbol buaya dan hiu ini adalah Klenteng. Dari beberapa Klenteng yang terletak di Surabaya mungkin salah satuhnya yang cukup terkenal untuk pelisir pecinaan adalah Klenteng Mbah Ratu.

Ketika mendengar nama Klenteng mungkin yang terlintas langsung dalam pikiran kita adalah tempat beribadah umat Khonghucu. Namun berbeda denngan Klenteng lain, Klenteng yang terletak dijalan Demak no 38 Surabaya ini menganut sistem Tri Dharma atau sebuah kepercayaan yang tidak dapat digolongkan ke dalam agama apapun, seperti artian harfiah tiga ajaran, yakni taoisme, Buddhisme, dan Konfusionisme. Yang membuat kleteng Mbah Ratu menjadi kleteng pluralisme.

Awal saat memasuki ruangan suasana tenang akan langsung menyerbak dari bau menyan dan dupa, warna merah menyalah mendominasi seluruh bagian Klenteng kemudian tatapan kita akan langsung terarah pada lilin besar yang selalu menyala menyabut kedatangan pengunjung membuat suasana terasa tenang dan hening.

Nama klenten Mbah Ratu sendiri berasal dari orang China yang datang ke Indonesia yakni Laksamana Cheng Hoo alias Zheng He. Karena orang Jawa yang tidak tahu akan istilah Cheng Hoo kemudian menamai Klenteng yang berdiri sejak tahun 1935 ini dengan nama Mbah Ratu atau dalam bahasa China-nya Sam Poo Tay Djien.

Klenteng yang bisa menampung 1000 lebih jamaah ini, sangat kental dengan budaya Jawi, Di Klenteng Mbah Ratu terdapat peribadaan malam Jum’at manis dimana dalam bahasa Jawa biasanya disebut dengan Jum’at Legi. Perbedaan signifikan dari Klenteng Mbah Ratu dengan Klenteng lainnya adalah pada dewa induknya atau Dewa yang dipuja yakni di Klenteng Mbah Ratu adalah Dewa Cheng Hoo.

Berbicara tentang keistimewaan dari kleteng Mbah Ratu yakni sistem yang dianut berbeda dengan Klenteng lainnya. Mbah Ratu menganut sistem kejawen yakni sembayang dengan menggunakan menyan dan memakai bunga. “karena kleteng Mbah Ratu kebanyakakan dari masyarakat Jawa, saat sembanyang tidak menggunakan syusup melainkan menggunakan dupa sebagai tradisi.” ungkap Tan Tjin Hawee selaku ketua pengurus Kleteng Mbah Ratu.

BACA JUGA   Lestarikan Budaya Reog

Di dalam Klenteng Mbah Ratu terdapat bagian yang istimewah untung mengenang sosok pendiri Klentng Cheng Hoo. Terdapat kayu sepanjang 14 meter di dalam area Klenteng yang berasal dari kapal Laksamana yang namanya juga diabadikan sebagai nama Masjid di Surabaya ini. Kayu ini sendiri menurut rumor yang beredar dikalangan masyarakat akan selalu kembali ketempatnya ketika dipindahkan, kemudian pengurus memutuskan untuk menyimpan kayu ini dibawah altar utama dan ditutup dengan kaca.

Klenteng Mbah Ratu mulai dibuka pukul enam pagi hingga pukul tujuh malam, kecuali malam Jum’at manis buka 24 jam untuk beribadah “datang ke Kleteng Mbah Ratu karena dekat dengan tempat kerja dan disini kletengnya sosial tidak dipungut biaya.” Ujar Suryanto salah satu pengunjung Klenteng.

Naskah : Adek Dharma | Foto : Ali