Penanganan Kampus Lambat, Mahasiswa Lancarkan Aksi Protes

actasurya.com – Perwakilan mahasiswa Stikosa-AWS melakukan aksi protes terhadap pihak akademik pada Jumat (4/3). Spanduk berwarna putih selebar hampir dua meter yang bertuliskan kalimat sarkasme, kali ini menjadi bentuk aksi mereka. Bertengger pada tiang di area lapangan parkir mobil, spanduk ini sempat mencuri perhatian mahasiswa yang lewat.

Aksi ini ditengarai akibat bentuk kekecewaan mahasiswa kepada pihak akademik. Berawal dari kasus kehilangan helm yang dialami mahasiswa, hingga penanganan pihak terkait yang terkesan ruwet.

Spanduk yang dibentangkan menghadap pendopo kampus ini, sontak mencuri perhatian Puasini Apriliyantini, Pembantu Ketua III bidang kemahasiswaan. Tak lama setelah dipasang, wanita yang akrab disapa April ini datang bersama Kepala Bidang Perlengkapan, untuk melakukan tawar menawar pencopotan spanduk.

“Saya tidak mau, hal ini selalu menjadi penyakit di lingkungan akademis. Maka dari itu kami membuat aksi protes agar didengar dan kasusnya segera ditangani oleh pihak akademik,” ujar Aditya Poundra saat mediasi bersama PK III.

Menurut Poundra, kampus komunikasi ini sering mendapat kabar tentang mahasiswa yang kehilangan barang, mulai dari yang sepele hingga barang yang bernilai tak sedikit. Mahasiswa semester 8 ini juga menyesalkan lambatnya proses penanganan yang dilakukan oleh pihak terkait.

Hal ini tentu sangat disayangkan, terlebih mengenai Standar Operasional (SOP) yang kurang dijalankan oleh pihak terkait seperti pihak security dan akademik. Yang mana tentu membuat keamanan terkesan kurang terjaga. Seperti kasus kehilangan di area kampus yang baru dialami oleh mahasiswa angkatan 2012, Julia Ekawati.

Julia melaporkan kehilangan helm di parkiran kampus Stikosa-AWS pada tanggal 8 Februari lalu kepada pihak security. “Pada waktu kehilangan besoknya saya langsung menghadap ke pak Ismojo (ketua Stikosa-AWS) dan langsung mengajukan surat kehilangan yg ditujukan ke pak Mas’ud, dan katanya akan segera ditindak lanjuti masalah ini,” terang Julia.

Namun setelah itu, hingga sebulan berlalu, tak ada tindak lanjut mengenai kasus ini. Sampai puncaknya pada kemarin malam  (3/3) terjadi penanganan dari pihak kampus. Berawal dari ketika ia hendak pergi keluar kampus, dan rekannya tak sengaja mendapati helm yang memiliki ciri-ciri mirip dengan helm Julia, tapi helm tersebut, sudah berada di atas motor mahasiswa lain.

Barulah beberapa mahasiswa teman Julia mencari tau siapa pemilik motor, dan mendapatinya sebagai mahasiswa semester 4. Sontak, keributan pun tak dapat terelakkan. Mahasiswa semester 4 itupun diamankan oleh security ke gedung akademik untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Dan, Julia bersama rekan-rekannya akhirnya diijinkan untuk melihat rekaman cctv.

Namun, hal yang mengecewakan terulang kembali, Julia mendapati rekaman cctv pada waktu kejadian itu sudah hilang karena prosedurnya memori cctv menghapus otomatis data yang sudah lama. Dan juga, ketika dilihat, Julia menyadari letak pemasangan cctv tidak efektif karena tidak mencakup seluruh parkiran. Hasil gambarnya pun menunjukkan banyak space kosong yang tidak penting untuk diamati. Tak hanya itu, ada juga cctv yang menampilkan gambar tak jelas.

“Hasil gambarnya menjadi tidak jelas, karena mengarah pada sepeda motor yang mana jika terkena lampu motor, cahayanya over dan blur,” ungkapnya.

Pihak kampus berjanji akan secepatnya mengganti barang yang hilang dengan uang, Julia berharap agar masalah ini bisa cepat selesai. Dan dia juga berharap hukuman dari kampus tidak terlalu berat, karena ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan. Julia juga mengaku merasa kasian jika nantinya pelaku mendapatkan hukuman skorsing atau dikeluarkan dari kampus. (N/F: Hilda,Haris/Farid)