“Pena Kecil Menggapai Harapan” bersama Agnes Davonar dan Forum Lingkar Pena.

actasurya.com – “Saya menulis tentang para penyandang disabilitas karena saya merasa mereka adalah orang-orang yang spesial. Dalam keadaan seperti itu mereka masih memiliki rasa syukur, yang kadang orang normal kurang memilikinya,”  ujar Agnes Davonar.

Sabtu (16/1), Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (HMJ PLB) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengadakan acara seminar dan talkshow yang membahas mengenai penulisan literatur kreatif (LIKTIF) bertema pena kecil menggapai harapan. Acara ini dihadiri oleh Agnes Davonar dan tiga anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Surabaya, sebagai narasumber.

Tujuan HMJ PLB mengadakan acara ini, untuk mengenalkan dunia literasi dan pentingnya membaca kepada anak muda jaman sekarang. Maka dari itu, dihadirkan narasumber dari FLP Surabaya, yaitu Agustha Ningrum, Nur Fadhilah Tisnawati dan Muhammad Khoirur Roziqin, untuk menginsipirasi para peserta seminar baik dari dalam maupun luar Unesa, supaya lebih mencintai baca tulis.

“Saya suka membaca sudah sejak SD. Bahkan pernah suatu ketika saya sakit, obatnya Cuma membaca kemudian saya menulis” ujar Nur Fadhilah Tisnawati, atau yang akrab dipanggil Titis di sela-sela talkshow. Ketiga narasumber dari FLP tersebut juga sepakat dan berbagi cerita pada peserta, bahwasanya menulis merupakan terapi jiwa.

Tak ketinggalan, Agnes Davonar juga berbagi pengalamannya dalam dunia tulis menulis, mengingat ia adalah penulis dari novel best seller antara lain My Idiot Brother, Surat Kecil Untuk Tuhan dan Ayah, Mengapa Aku berbeda. Kebanyakan karyanya yang menceritakan penyandang disabilitas membuat ia didapuk menjadi pembicara utama dalam acara ini.

“Karya Kak Agnes kan kebanyakan bercerita tentang penyandang disabilitas. Kalau kak Agnes jadi pembicara di acara kami, jadinya nyambung dengan jurusan kami. Bisa menginspirasi juga,” ugkap Langgam Firdausy, k.etua pelaksana.

Selain membagi pengalaman, Agnes Juga membagi ilmu pada peserta seminar dengan memberikan materi  mengenai tips menulis novel dan cerpen. Sayangnya saat menghadiri acara ini ia sedang kehabisan suara, maka dari itu ia sama sekali tidak menjelaskan tentang materi seminarnya, tetapi mempersilakan para peserta untuk membaca print out materi yang sudah dibagikan dari awal acara dan memberikan kesempatan untuk bertanya.

“Suara saya sedang habis, tapi ini sudah agak lumayan sih. Saya nggak usah jelaskan materinya ya, karena semuanya sudah ada di print out yang kalian pegang, kalau ada yang tidak jelas atau perlu dipertanyakan, silahkan bertanya pada saya,” tutur Agnes, membuka sesi tanya jawab untuk peserta seminar.

Kondisi suaranya yang sedang kurang maksimal, tidak mengurangi performa Agnes dalam menjawab pertanyaan dari peserta. Para peserta seminar yang berjumlah sekitar 150 orang ini juga nampak antusias melakoni sesi tanya jawab. Terbukti, ada seorang peserta yang bertanya sampai lima pertanyaan sekaligus, bahkan ia memberikan surat pembaca secara langsung kepada Agnes Davonar.

“Saya suka dengan karya kak Agnes. Saya juga sedang belajar menulis juga, jadi saya suka bertemu dengan penulis nasional, salah satunya ya kak Agnes. Saya bikin suratnya sehari sebelum acara ini, sebagai bentuk apresiasi,” tutur M.Ivan dari SMAN 10 Surabaya. (F/N:Titis)