Metamorfosis Radio dari Generasi ke Generasi

actasurya.com – Tanggal 13 Februari tiap tahunnya diperingati sebagai World Radio Day atau Hari Radio Sedunia. Ditandai dengan lahirnya United Nations Radio pada tahun 1946, badan PBB United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkannya sebagai Hari Radio Sedunia.

Konsep radio berawal dari Heinrich Rudolf Hertz. Memanfaatkan spektrum frekuensi dan properti gelombang elektromagnetik, Hertz menunjukkan bahwa mengirimkan informasi dalam jarak tertentu bukanlah hal yang mustahil. Keberhasilan Hertz membuat para fisikawan mengajukan penggunaan gelombang dari Hertz sebagai cara navigasi atau komunikasi secara nirkabel.

Penemu muda Italia bernama Guglielmo Marconi merupakan sosok terkenal sebagai penemu radio. Marconi menciptakan sistem telegrafi nirkabel komersil menggunakan gelombang radio yang ditemukan oleh Hertz. Pada Agustus 1895, Marconi menguji sistem yang ia ajukan dan mampu mengirim sinyal jangkauan 800 meter. Dengan meninggikan letak antena, sistem telegrafi Marconi mampu mengirimkan sinyal yang menjangkau jarak 3,2 kilometer. Pada Juni 1912, Marconi membuka pabrik radio pertama di dunia yang terletak di Chelmsford, Inggris.

Radio pertama yang menyiarkan program berita adalah stasiun 8MK di Detroit, Michigan. Siaran tersebut berlangsung pada 31 Agustus 1920. Stasiun 8MK masih mengudara hingga kini di bawah kepemilikan jaringan bisnis Columbia Broadcasting System (CBS).

Namun bagaimanakah relevansi radio di era digital sekarang, di tengah derasnya perkembangan teknologi dan informasi? Akankah radio masih memegang peranan?

Fajar Arifianto, seorang praktisi media radio senior mengatakan, radio kini harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. “Radio harus bermetamorfosis menjadi radio siaran yang dapat diakses dengan perangkat android atau sejenisnya,” ujarnya.

Menurutnya radio harus bisa menerima konsekuensi perubahan perilaku pendengar yang mulai bergeser. “Bila tidak bisa beradaptasi, ya siap-siap radio akan ditinggalkan pendengarnya,” tukas Fajar yang juga pernah menjabat sebagai Komisioner KPI Pusat 2013 – 2016.

BACA JUGA   Ajak Warga Berbelanja di Toko Kelontong dalam Festival Rujak Uleg

Selain harus bisa diakses secara online, Fajar mengatakan jika radio siaran juga harus menentukan format siaran dengan tepat dan sesuai segmentasi pendengar. Hal itu karena radio dikenal sebagai media massa yang sangat dekat secara personal.

“Radio memiliki tingkat keakraban yang tinggi dan dapat menggugah imajinasi yang sangat menarik. Sehingga sampai sekarang masih banyak yang menyukai radio,” ucap Fajar.

Ia berharap di momentum Hari Radio Sedunia ini masyarakat kembali mengingat  tentang fungsi radio yang tidak sekedar hiburan. “Yang lebih penting, radio bisa mengedukasi masyarakat dengan siaran yang bermanfaat,” jelas Fajar. (N/F: Farid, Els)