Merespon Indikasi Penyerahan Aset YPW-JT, Mahasiswa Stikosa AWS Gelar Aksi Kreatif

actasurya.com – Teriknya matahari pagi kota Surabaya disaingi oleh teriknya suasana kampus Stikosa AWS, Rabu (4/1). Beberapa mahasiswa kompak menggelar aksi kreatif sebagai respon atas indikasi penyerahan aset Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPW-JT).

Dilansir dari surabayapagi.com yang menyebutkan bahwa Dhimam Abror telah menandatangani surat pernyataan No 03/YPW-JT/PER/XII/2016. Di dalamnya, Abror menyebutkan ketidakeberatan atas pelepasan Hak Tanah seluas 8.000 meter persegi di Kapasari. Surat ini dinilai cacat hukum, lantaran Abror bertindak sendiri dan mengatasnamakan diri sebagai Ketua Badan Pengurus. Ini dianggap menyalahi UU Nomor 16 tahun 2001, yang telah dilengkapi dalam UU Nomor 2004 tentang Yayasan.

Menanggapi perihal tersebut di atas, mahasiswa menggelar aksi kreatif mulai gerbang depan kampus sampai ke area pendopo. Aksi tersebut digelar dengan melabeli hampir semua properti dan fasilitas kampus dengan kertas kardus bekas yang bertuliskan “Dijual.” Menurut tuturan dari Naufal A Imaduddin selaku koordinator lapangan aksi, hal ini perlu dilakukan sebagai konter isu dari pemberitaan di media massa terkait indikasi penyerahan lahan YPW-JT.

“Sebelumnya tanah yayasan yang di sebelah kampus itu sudah dijual dan nominal penjualannya kemana, kita nggak tau karena mereka nggak terbuka. Sekarang ada masalah serupa dan itu sudah dipublikasikan di media massa. Sebagai mahasiswa ya kita risih dan sebagai anak komunikasi kita harus menangggapi, dengan membuat konter isu. Salah satu bentuknya ya aksi tadi pagi,” tuturnya.

Dari depan, nampak gerbang kampus Stikosa AWS, ditempeli tulisan “Dijual. Hub : Mahasiswa.” Masuk ke dalam, kita akan melihat pos satpam di kanan yang CCTV nya ditempeli kardus bekas dengan tulisan spidol “Dijual karena tidak berfungsi. Kondisi 90%. Hub : Yayasan yang bersangkutan.”

Tak luput, area parkir dan tanaman di halaman depan kampus wartawan ini juga berlabel tulisan “Dijual.” Beberapa properti kampus di pendopo yang juga dilabeli oleh mahasiswa adalah majalah dinding (mading), lampu gantung, banner ucapan selamat natal dan tahun baru yang ditempel di muka pendopo, televisi, kursi bahkan tong sampah.

Juga, mahasiswa membuat pameran baju-baju bekas yang digantung menggunakan tali rafia di tepi kanan pendopo, tak lupa juga dikaitkan kertas kardus bekas bertuliskan “pelelangan dana untuk Yayasan.” Selain itu, di tengah pendopo Stikosa AWS ada penampilan teater bisu yang dalam penampilannya, duduk seorang mahasiswa menggunakan almamater Stikosa AWS, berkaca matam hitam, kepala sampai hidungnya dibungkus buff hitam bercorak coklat dan mulutnya dilakban. Peraga tersebut diberi kalung karton yang diberi tulisan “Dijual Mahasiswa Kurang Pintar. Hub : Mahasiswa.”

Aksi kreatif yang dipersiapkan oleh beberapa mahasiswa lintas angkatan sejak pukul 08.00 pagi kemarin menuai tanggapan dari pihak akademik, pun mahasiswa non-aksi. Dari pihak non-aksi, Sinyo Abi, mahasiswa broadcasting semester lima Stikosa AWS turut menyayangkan soal kasus penyerahan aset YPW-JT yang muncul di media masa. Perihal aksi kreatif yang digelar kemarin, ia menyarankan seharusnya ada komunikasi yang dijalin terlebih dulu antar mahasiswa dengan akademik sebelum diadakannya aksi.

“Aku nggak bisa nyalahin aksi temen-temen, tapi seharusnya kejadian ini dibicarakan secara baik-baik dengan pihak yang bersangkutan dahulu. Bila tidak ada titik temu, sah-sah saja kita melakukan aksi seperti ini,” ucap Sinyo.

Dari pihak akademik muncul tanggapan yang kurang menyenangkan. Hal itu terjadi pasca kedatangan Ketua Stikosa AWS, Ismojo Herdono, pada pukul 11.36 kemarin. Dengan ekspresi geram yang ditunjukkan dari raut mukanya, Ismojo Herdono sontak membredeli kardus-kardus bekas yang ditempel dengan tulisan dijual, memotret peraga teater bisu dan menanyai peraga teater bisu, “Kamu semester berapa ?.”

Mewakili seluruh massa aksi kemarin, Naufal sangat menyayangkan tanggapan dari Ismojo. Seharusnya mewakili pihak akademik, Ketua Stikosa AWS bisa mengajak massa aksi untuk berdialog, kiranya ada sesuatu yang dirasa keliru.

“Saya tidak tahu kenapa Pak Ismoyo nampak seemosional itu. Padahal sebagai kampus komunikasi seharusnya ada dialog yang terjalin baik antar komponen kampus, mahasiswa dengan akademik. Seharusnya bapak bisa bertanya, berdialog dengan kami, mempertanyakan maksud dan tujuan kami dalam aksi ini, bukannya marah,” ucap koorlap aksi itu kemarin pagi. (N/F:Titis/Darso)