Sumber foto : Kominfo Jatim

Actasurya.com – Meithiana Indrasari selaku Ketua Stikosa-AWS, mengaku punya pengalamannya terhadap lembaga Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Sehingga memiliki keinginan untuk, mendirikan lembaga UKW di kampus pencetak wartawan. Kini upaya tersebut, sudah sampai tahap penyusunan untuk pengajuan. Jikalau hal ini direalisasikan nantinya kampus pencetak wartawan tertua Surabaya, menjadi perguruan tinggi kedua di Jawa Timur yang memiliki lembaga UKW.

“Karena stikosa itu kampusnya wartawan, memang seharusnya punya lembaga ukw. Jadi ini sedang diusahakan, kita sudah menyusun untuk pengajuan lembaga UKW,” Ujarnya.

Adapun ketentuan untuk bisa mendirikan Lembaga UKW, berdasarkan surat keputusan Dewan Pers Nomor 05/SK-DP/I/2011 tentang tata cara menetapkan Lembaga UKW. Yakni sebuah PT harus sudah berdiri sekurang-kurangnya 20 tahun, memiliki program studi Jurnalistik minimal 10 tahun, serta memiliki dosen dari kalangan praktisi jurnalistik minimal 5 orang. Namun, pada point terakhir Stikosa-AWS saat ini tidak dapat memenuhi persyaratan.

“Terkait dengan dosen-dosen kita kerja sama, dengan dosen pakar jadi gak ada masalah,” Katanya.

Wanita berkacamata ini merasa bahwa Stikosa-AWS memiliki bidang sama-sama di jurnalis, dan juga sama-sama di broadcast. Maka dari itu perlunya Lembaga pendidikan yang turut aktif mencetak profesi-profesi.

”Karena bidang kita itu, jadi kita terus mengeksiskan profesi itu. Dan nanti feedback nya untuk Stikosa-AWS juga. Dengan harapan profesi itu adalah sebuah kebutuhan NKRI,” Ungkapnya.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Sasmito Madrim, memberikan tanggapan terkait Uji Kompetensi Wartawan yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.  Bahwa semua orang bisa mengaku sebagai media, tetapi belum tentu bisa menjalankan fungsinya sebagai peran media publikasi. Maka dari itu wartawan juga harus memegang prinsip, tidak boleh menerima nominal dari siapapun untuk kepentingannya pribadi atau apapun itu, karena akan menyebabkan pemberitaan hoax.

“Siapapun itu lembaga penguji nya mau dari perusaahan media ataupun kampus, bahkan organisasi pers baik jurnalis atau perusahaan media saya rasa sah sah aja. UKW ini kan sebagai salah satu upaya agar orang yang diuji itu dari segi etik profesi bisa lebih baik. Prinsipnya untuk mengurangi malpraktek di profesi jurnalis agar tidak terjadi itu harus diuji. Pekerjaan rumah (PR) nya nanti orang-orang yang selesai di uji tidak kembali kepada praktik yang dianggap lacung dalam profesi jurnalis. Jadi setelah UKW itu satu tahun kedepan harus ada pemantauan, itu lah sulitnya bagi kampus bagaimana menjamin itu,” Bebernya.

Jelita Sondang Samosir mahasiwi jurusan jurnalistik, mengatakan bahwa dulu Stikosa-AWS pernah mengadakan Sertifikasi kompetensi yang berfokus ke hal komunikasi seperti Public Relation, Uji Kompetensi Fotografi, Uji Kompetensi Jurnalis.

“Jadi dulu pernah ikut, tapi fokus pada komunikasi. Itu berlangsung cuman satu hari full dari pagi sampai menjelang sore. Dulu juga Stikosa-AWS sempat mau membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) tapi gak jadi karna satu dua hal,” Jelasnya.

Disamping itu wanita berkacamata ini juga menambahkan harapannya mengenai Lembaga UKW, yang akan berdiri di kampus berprogram studi ilmu komunikasi. Meskipun perlu banyak yang dipersiapkan. Namun setiap mahasiswa yang sudah lulus, bisa memiliki daya saing di dunia pekerjaan. Terlebih didunia media, yang bercita-cita menjadi Jurnalis.

“Memang banyak harus dipersiapkan dari mulai asesor, bekerja sama dengan siapa. Kalau bisa setiap lulusan stikosa yang berminat di dunia wartawan setidaknya bisa ikut UKW, mahasiswa yang mau lulus jika mahasiswanya bersedia. Harus konsisten gak berjalan sebentar tapi bisa lama, bisa jadi peluang bisnis baru bagi Stikosa-AWS. Bisa meningkatkan daya saing mahasiswa di dunia pekerjaan juga,” Tutupnya.

(N/F:Shf)