Mahasiswa Lupa, BEM Masih Ada

Suasana acara pelantikan PresBem beserta jajarannya periode 2019 – 2020. (25/07/2019)

Actasurya.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai wadah aspirasi mahasiswa kepada akedemik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) periode 2019-2020 akan berakhir di bulan Juni.

Berjalan hampir satu periode kepengurusan Zalzabilla Nadya Ardiani L, selaku Presiden BEM. Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Acta Surya, mengumpulkan data dari mahasiswa aktif di Stikosa-AWS.  Dari data tersebut, beberapa mahasiswa memberikan tanggapan mengenai kinerja PresBEM yang telah berjalan delapan bulan.

Menurut kolom kritik dan saran pada link kuesioner yang telah disebar, beberapa di antaranya merasa bahwa kinerja presiden BEM beserta kabinetnya tidak terlihat.

“BEM hanya terlihat di mahasiswa saat demo di DPR dan acara nggak jelas yang mereka buat di kampus! Intie BEM nggak jelas kinerjae, ongkang-ongkang semua dari presBEM sampai anggotae,” tulis Jevon, mahasiswa semester enam, kelas pagi.

Tak sebatas itu, Jevon juga mengatakan bahwa BEM sering melakukan perubahan jadwal pertemuan dengan mahasiswa secara mendadak. Selain itu PresBEM dan semua kabinet BEM sulit untuk ditemui “Dari semuanya juga susah untuk ditemui. Saat saya meminta tanda tangan ke BEM selalu gak ada, biarpun itu jajarannya gak ada semua. Mereka pasti adanya siang, kalo enggak tiba-tiba merubah sore, kayak seenaknya sendiri gitu,” jelasnya.

Senada dengan Jevon, Mahendra Tubagus juga merasakan hal yang sama, menurutnya  BEM di kampus tidak ada faedahnya. “ Menurut saya kinerja BEM selama ini itu apa? Kita ini anak kupu-kupu, tapi kita juga tidak tidur. BEM di kampus tidak ada faedahnya,” tulisnya.

Selain itu, dari mahasiswa semester delapan, Desy Iin, menulis bahwa BEM terlalu santai dan ia berharap agar PresBEM ke depannya bisa lebih aktif.

Selain, tanggapan melalui kuesioner, Mahasiswa semester enam, Habib Syahrul ketika ditanya perihal kinerja satu periode PresBEM, ia bahkan sempat mengaku lupa jika ada BEM di kampus.

“BEM Sepertinya ada progres, cuman kurang kreatifitas. Emane ae kenapa di awal-awal periode itu nggak ada yang ‘Wah’ gitu. Jujur ya, bahkan aku sampai lupa kalau di AWS iku onok BEM,” ujarnya.

Tanggapan PresBEM

Sejak dilantiknya Benk panggilan akrabnya sebagai PresBEM pada Juni 2019 lalu, seharusnya proker PresBEM tahun ini berakhir pula pada bulan Juni 2020, namun karena dirasa terlalu lama, maka PresBEM mengatakan bahwa pada timeline-nya, target  Program Kerja (Proker) semua kabinet BEM akan selesai semua pada Mei ini.

Ia menuturkan  bahwa proker yang sudah terlaksana diantaranya ialah Opspek, LKMM-TD, Kelas Internal, dan Dies Natalis BEM. Sedangkan sebagian proker akan segera dirampungkan pada bulan April dan Mei mendatang. Adapun Proker yang akan dikejar pada dua bulan terakhir ini diantaranya AD-ART, LKMTM, Festival Pers, dan Diskusi Publik (Dispub).

LKMMTM sendiri rencananya akan diadakan pada akhir Maret. Menurutnya, LKMMTM periode 2019-2020 berselang jauh dari LKMMTD karena ada beberapa faktor, seperti adanya formula yang berbeda, karena AD-ART BEM tidak sesuai dengan peraturan Dikti saat ini. Selain itu, adanya kesalahfahaman internal dari lulusan LKMMTM tahun lalu.

Menurutnya, lulusan LKMMTM tahun lalu kurang paham mengenai output kegiatan tersebut. “Mereka seperti kurang paham, output LKMMTM itu apa selain menjadi pemandu? Karena yang ditulis di AD-ART lulusan LKMMTM hanya menjadi pemandu Opspek dan LKMMTD tahun depan. Nggak ada beban yang mengharuskan mereka menjadi panitia di LKMMTM tahun depannya,” ujarnya.

Sependapat dengan senior LKMMTM, menurut Benk tidak logis jika panitia LKMMTM diserahkan pada SDM BEM yang mempunyai Proker, dan tidak logis jika panitia dipegang oleh orang-orang yang tidak pernah mengikuti kegiatan LKMMTM sebelumnya. Sehingga hal inilah, yang menjadi permasalahn internal tersendiri, hingga membuat hal tersebut berjalan sedikit lama. Namun, ia menjelaskan saat ini permasalahan tersebut telah selesai.

Untuk AD-ART sendiri sedang dikejar, karena sudah lama dan dianggap tidak sesuai dengan peraturan Dikti saat ini. Terutama mengenai Opspek, LKMMTD, dan LKKMMTM tersebut. Walaupun, BEM belum yakin sepenuhnya, karena yang berhak merubah AD-ART adalah kongres mahasiswa, otomatis semua elemen harus dilibatkan. Tetapi paling tidak, jika misalnya tak disetujui oleh Kongres tersebut, setidaknya BEM tahun ini sudah punya draf untuk Kabinet BEM tahun depan.

Sedangkan untuk proker yang belum terlaksana, departemen Sosial Politik (Sospol) dengan diskusi Publik dan AWS Peduli-nya. Adapun departemen Minat Bakat yang akan membuat Festival Pers, dan kedua rencana tersebut  akan diselasaikan pada akhir Mei tahun ini.

Tidak sekadar membahas proker, Benk mengaku selama ini ia dan kabinetnya telah berupaya maksimal dalam menjembatani seluruh civitas akademik, “Jadi selama 8 bulan ini kita memaksimalkan orang-orang di kabinet BEM untuk memiliki awareness terhadap apapun yang sedang terjadi di kampus,” ujarnya.

Mengenai tanggapan mahasiswa yang mengatakan bahwa kinerja BEM tidak terlihat selama ini, Benk mengatakan bahwa hal itu wajar, karena menurutnya goals BEM bukan di situ. Benk menjelaskan bahwa kinerja mereka yang kurang terlihat itu dikarenakan  saat ini BEM fokus menggodok AD-ART yang belum sempat terlaksana di dua tahun terakhir  kepengurusan.

Tak hanya itu, Benk mengaku tidak memusingkan para mahasiswa yang kurang memiliki kepercayaan terhadap kinerja BEM, “Oh, it’s oke, karena memang selain orang bebas berpendapat goals ku di tahun ini bukan percaya atau gak percaya, tapi paling enggak kita buka jalan enaknya dulu sinergi antara akademik dengan mahasiswa,” paparnya.

Hal tersebut sebagai salah satu  cara mewujudkan misinya, yaitu “Menjadi media komunikasi dan informasi utama bagi seluruh civitas akademik” dilakukan dengan memfokuskan semua departemen untuk bertanya mengenai minat bakat kepada Organisasi Mahasiswa, mengenai isu Sospol, mahasiswa baru (Maba), dan permasalahan yang terjadi di sekitar kampus.

Sementara itu dia juga mengatakan bahwa untuk kedepannya mereka ingin mengadakan mediasi mengenai berita di Mading Acta Surya yang sedang heboh di kampus mengenai gelar ketua prodi Stikosa-AWS. Tujuan diadakannya forum tersebut ialah agar dapat diketahui sudah seberapa jauh kejelasan kondisi dari permasalahan ini sehingga masalah tidak melebar kemana-mana dan kondisi kampus kembali membaik. Di sini BEM fokus sebagai penengah di semua problematika kampus.

Selain itu, upaya PresBEM membangun kepercayaan mahasiswa terhadap BEM telah dilakukan dengan adanya Mading Demokrasi.
Adapun upaya lain yang dilakukan adalah dengan menjalin hubungan personal antara kabinet BEM dengan seluruh civitas akademik.  “Sejauh ini upaya yang dilakukan hanya itu saja karena sampai detik ini tidak ada orang yang mau nulis di Mading Demokrasi padahal cuitannya di Media Sosial banyak,” ujarnya.

Benk berpendapat bahwa hal ini karena adanya faktor ketidakpercayaan mahasiswa. Menurutnya, ketidakpercayaan tersebut bisa disebabkan karena stigma negatif dari mahasiswa itu sendiri. Menurutnya, mahasiswa masih takut kalau BEM memberikan justice kepada mereka.

Kemudian stigma yang ke dua adalah karena sebagian dari mereka memang dirasa belum mengenal mereka secara personal, dan menganggap BEM terlalu formal. PresBEM juga menghimbau kepada mahasiswa, ketika memiliki suatu keresahan, mereka mau datang ke BEM karena BEM-lah satu-satunya wadah yang bisa menaungi permasalahan tersebut.

Sebenarnya, selain dengan kedekatan personal, ia  juga masih mencari cara lain untuk mendapatkan kepercayaan dari mahasiswa. Adapun keluhan mengenai PresBEM yang  beberapa bulan ini memang tidak bisa ditemui pada jam kerja. Benk menjelaskan bahwa ia sedang magang, sehingga hanya bisa ditemui pada malam hari saja.

Tanggapan WAKA III mengenai kinerja PresBEM

Mengenai hal tersebut, Suprihatin sebagai Wakil Ketua (Waka) III menanggapi positif kinerja BEM periode 2019-2020, “Selama 2 bulan itu saya menilai BEM cukup berhasil. BEM mampu berperan sebagai fasilitator. BEM sering berkoordinasi dengan saya, dengan Bu Prida sebagai ketua, dengan alumni, dengan mahasiswa yang bersangkutan. Artinya dia memegang peran ketika saya membutuhkan teman-teman ormawa. Saya tidak harus langsung ke ormawa, saya bisa minta bantuan wadah BEM ini untuk memfasilitasi,” nilainya saat ditemui di ruang Waka III Stikosa-AWS.

Menurutnya, ini adalah salah satu peningkatan yang cukup baik walaupun pihaknya tidak mengetahui seperti apa kinerja PresBEM sebelumnya. Hal ini disebabkan karena ia baru menjabat sebagai Waka III. Terhitung mulai dari 17 Desember 2019 beliau menerima Surat Keputusan (SK), kemudian libur panjang hingga pada 6 Januari 2020.

Sehingga, Titin panggilan akrabnya, baru mulai efektif dalam menjalankan kewenangannya dalam kurun waktu dua bulan. Karena hal inilah, ia tidak bisa memberikan penilaian secara keseluruhan mengenai kinerja PresBEM selama hampir satu periode ini.

Sedangkan, menurut Puasini Apriliyantini sebagai dosen Stikosa-AWS yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Wakil Ketua III, dirinya menyatakan bahwa kinerja PresBEM selama dia menjabat sebagai Waka III sudah cukup baik.

“Dia sudah bisa melakukan tugasnya memimpin teman-temannya dalam organisasi BEM-nya sendiri dengan bagus, kemudian antara mahasiswa dan akademik mereka juga sudah berusaha menjembataninya, kemudian jika ada masukan dari mahasiswa yang ingin menyampaikan sesuatu mereka juga melakukan pertemuan,” ucap April sapaan akrabnya.

Berdasar, visi misi yang disampaikan PresBEM sebelumnya, ia menyatakan bahwa semua adalah proses sehingga tidak bisa menilai apakah visi misi ini berhasil atau tidak sebelum adanya evaluasi pada saat berakhirnya masa jabatan PresBEM. Dia hanya bisa menilai dari program kerja yang sampai saat ini sudah terlaksana, tapi tidak secara keseluruhan.

Salah satu keberhasilan kinerja PresBEM pada periode ini ialah dengan adanya program kerja Mading Demokrasi sebagai wadah untuk menyuarakan saran dan kritik bagi seluruh civitas akademik. Meskipun program kerja ini tidak berjalan dengan semestinya.

Adanya hal tersebut, Titin dan April selaku pihak akademik, mengatakan bahwa hal tersebut bukan kesalahan PresBEM tapi karena mahasiswa yang tidak mau mengisi mading tersebut. Dengan adanya program ini menurut mereka sudah menunjukkan peran BEM sebagai suatu wadah komunikasi bagi seluruh civitas akademik. (N/F: Qoe, Len/Dok. Pribadi.)