actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»BERITA»Mahasiswa DKV ISTTS Pamerkan Fashioning Technology Wasted
BERITA

Mahasiswa DKV ISTTS Pamerkan Fashioning Technology Wasted

redaksiBy redaksi5 Desember 2018
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Actasurya.com – Teknologi adalah suatu alat yang digunakan untuk mempermudah seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Seiring kecanggihan yang kian masif tercipta, tentu perkembangan ini menyisahkan dampak karena teknologi tersebut akan terganti dengan alat terbaru, atau disebut sampah teknologi. Seperti disket, CD, bahkan flashdisk yang sedikit demi sedikit mulai tergerus eksistensinya dengan penyimpanan di “udara”.

Melihat kondisi sampah teknologi yang tak terpakai dan terbengkalai, Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) khususnya prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) menjadikan barang bekas teknologi menjadi suatu karya recycle fashion. Hampir disetiap tahunnya STTS selalu mengadakan kegiatan fashion dengan menampilkan suatu karya mahasiswa muda (semester 1), dan tahun ini kembali digelar dengan mengangkat tema “Fashioning Technology Wasted” di ruang Auditorium, Senin (03/11).

“Sebelumnya kita pakai bungkus permen, bungkus kopi, kalau sekarang kita lebih ke situ (teknologi). Jadi sampah-sampah teknologi itu lebih ditonjolkan, dan bahan utama salah satunya CD. Cuman Mereka banyak yang menggabungkan, ada yang pakai selang vacuum cleaner, pakai kabel kabel, bahkan ada yang bongkar kayak game console,” kata Bonifaci Bulan dosen Rupa Dasar DKV.

Dosen yang akrab disapa Boni mengatakan, jika sampah-sampah yang masih tersisa cukup banyak. Pun yang sudah rusak dan tidak dapat diperbaiki, itu lah yang mengakibatkan menjadi sampah.

“Maka dari itu saya ngajak anak-anak (mahasiswa semester 1 DKV), tapi dalam dalam fashion. Jadi akhirnya mereka bikin fashion show di sini,” ujarnya.

Projek yang diberikan sejak pertengahan bulan September ini, rupanya sudah menjadikan 10 karya yang siap ditampilkan dalam Fashioning Technology Wasted. Bahkan Boni meminta kepada lima kelompok untuk menyerahkan laporan keuangan sebab, semakin sedikit pengeluaran, maka para mahasiswa DKV semakin memanfaatkan sampah teknologi.

“Cuman kalau laporan keuangannya mereka baru janji selesai setelah pameran ini. Jadi mereka sebisa mungkin enggak sampai beli barang baru itu untuk untuk bikin ini,” jelasnya.

Sementara itu, Dwitama Lingga Saputra sebagai juru bicara dari kelompok satu yang terdiri dari 11 orang ini mengangkat tema Steampunk. Dimana Steampunk ini merupakan suatu aliran science-fiction yang memadukan era mesin uap dengan masa depan.

“Jadi ada banyak gear, segala macam. Jadi tema kita itu lebih ke zaman retro atau zaman vintage dengan tema steampunk,” ucapnya.

Bahan-bahan yang digunakan dalan busana bertema Steampunk ini terdapat karton duplex bekas, karet eva untuk membuat template, juga ornamen-ornamen gear dengan memakai kardus dan karet karton duplex.

“Untuk bajunya itu juga dari jas lab bekas, jadi semua ornamen dan bajunya diusahakan menggunakan barang bekas teknologi. Kalau biaya ada untuk Cat, lem, dan segala macam untuk memadukan antara barang bekas dan fashion ini kan agak susah. Jadi kita harus gunakan lem biar jadi satu itu pasti ada biayanya,” tutupnya. (N/F: Esti)

#acta surya #mahasiswa #Fahioning #DKV iSTTS #fashion
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik

14 November 2025

Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital

5 Juli 2025

Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital

23 Desember 2024

1 Komentar

  1. Tama on 6 Februari 2022 22:59

    keren sekalii jadi kangen masa-masa offlineee mppssaahh

    Reply

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.