Kondisi Mahasiswa Perantau di Kala Pandemi

Sumber Foto: pexels.com
Sumber Foto: pexels.com

Actasurya.com – Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang berasal dari Wuhan, Cina telah menyebar ke Indonesia sejak akhir Maret lalu. Demi memutus mata rantai penularan, maka pihak pemerintah pusat maupun daerah menerapkan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Hal ini juga mempengaruhi beberapa aspek kehidupan lain. Seperti kondisi ekonomi kian menurun, serta proses belajar-mengajar yang berjalan tidak efektif. Hal tersebut dirasakan oleh Ever Otniel Asentowi, mahasiswa Papua Barat, yang menimbah ilmu di kota Malang. Dirinya mengaku sulit untuk terus bertahan hidup di perantauan saat kondisi wabah seperti sekarang.

“Kita di sini tidak punya lahan untuk berkebun, jadi kalau uang atau makanan habis, ya kita gak bisa ambil apapun. Berbeda jika di kampung,” tutur mahasiswa semester 2.

Pria yang kerap disapa Ever ini menuturkan, ia tak bisa mendapat kiriman uang selama Covid-19. Karena kebijakan pemerintah daerah Papua yang menutup akses, termasuk juga bank.

“Apalagi bank di tempat orang tua saya tinggal ditutup. Pastinya mereka tidak bisa kirim uang,  ke kota juga tidak bisa karena akses dibatasi,” urainya.

Walau begitu, Ever yang bertempat tinggal di Asrama Mahasiswa Tambrauw, Kota Malang ini, mengaku sudah empat kali mendapatkan bantuan berupa sembako oleh pemerintah maupun organisasi lainnya.

“Namun sembakonya bertahan seminggu saja. Karena di Asrama ini banyak mahasiswa, jadi dibagi sedikit-sedikit,”  beber pria berambut keriting itu.

Selain sulit mendapatkan makanan dan kebutuhan lainnya.  Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik di Sekolah Tinggi Ilmu Akademik (STIA) Malang ini, juga mengalami kesulitan saat kuliah daring.

“Apalagi ditambah beban kuliah online, sudah pasti beli paket data. Kampus sama sekali tidak menanggung paket data,” sesal Ever.

Serupa yang dialami Ever, Rentiana Segi mahasiswi asal Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga mengenyam pendidikan di Kota Apel ini. Dirinya merasa masih kesulitan saat kuliah online, karena keterbatasan alat yang dimilikinya.

“Kuliah online tidak semudah yang dibayangkan. Saya belum punya laptop.  Handphone juga memorinyanya kecil, jadi tidak bisa simpan materi. Ditambah tugasnya yang menumpuk,”  keluhnya.

Namun berbeda  yang dirasakan Alfrida Kofiaga, mahasiswi asal Papua Barat itu. Ia merasa tidak ada kendala berarti selama pandemi ini berlangsung.

“Kalau soal makan dan sebagainya, dengan bantuan yang diberikan pemerintah dan pihak lainnya, sudah cukup bagi saya,” ucap Ida.

Ketika ditanya biaya saat kuliah daring, mahasiswi berambut keriting ini mengatakan tidak terbebani. “Saya ada WiFi (Wireless Fidelity),  jadi tidak perlu membeli kuota internet lagi untuk kuliah online,” pungkas mahasiswi STIA Malang ini.  (N/F: Mxs)