Kampung Penuh Warna di Tengah Kota

actasurya.com – Kampung kecil itu letaknya di tengah kota dan berdiri di antara gedung-gedung besar. Banyak hal dapat ditemui di dalamnya mulai dari  permainan tradisional, tari, sejarah, budaya dan masih banyak lagi. Kampung ini  dipenuhi jalan kecil, dengan banyak pemandangan lukisan warna-warni yang menyegarkan mata. Banyaknya bangunan lawas semakin menambah daya tarik kampung yang biasa disebut Kampung Ketandan itu.

Warna-warni kampung itu berasal dari mural yang baru menghiasi sepanjang jalan Kampung Ketandan selama hampir dua tahun. Seni mural yang ditonjolkan ini menjadi salah satu ciri khas kampung tersebut. Ciri khas itulah yang pada akhirnya dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi Kampung Ketandan.

Awalnya kampung ini adalah kampung wisata, yang oleh Pemkot (Pemerintah Kota) mengarahkan Karang Taruna untuk mengurusnya. “Tapi menurut anggota Karang Taruna kalau dibuat kampung wisata, wisatawannya cuman sekedar masuk, lihat-lihat, terus pulang,” ujar Abdul Gofar selaku ketua Karang Taruna.

Karena kesepakatan Karang Taruna tersebut, Kampung Ketandan berubah menjadi kampung budaya. Hal itu bukan tanpa sebab, pasalnya wisatawan lebih merasa betah di Kampung Ketandan dengan budayanya dari pada wisatanya. Bahkan, kampung ini mengizinkan wisatawan untuk menginap di rumah warga untuk mempelajari budaya dan seni di Kampung Ketandan.

Tak hanya itu, terdapat Rumah Wayang juga di Kampung Ketandan. Sampai-sampai pernah ada dua wayang yang dibeli untuk dipajang di Museum Surabaya. Sebenarnya Rumah Wayang tersebut rencananya akan dijadikan museum untuk wisatawan yang datang ke Kampung Ketandan. Tapi sayangnya tidak ada penerus untuk melestarikan atau mengembangkan wayang tersebut, karena satu-satunya pengurus sudah meninggal dunia.

“Kebetulan sini (Kampung Ketandan) juga masuk agenda dikunjungi oleh warga asing. Jadi dari Pemkot juga bersedia membiayai dan memfasilitasi semua kebutuhan Kampung Ketandan untuk memperindah kampungnya,” ujar Abdul Gofar.

Sebelum menjadi kampung yang sekarang disebut Kampung Ketandan, dulunya kampung ini dan daerah sekitarnya merupakan kuburan Cina. Bahkan, sampai sekarang pun masih ada beberapa makam Cina yang sudah tertimbun jalan dan rumah.

Sekitar tahun 1948, Kampung Ketandan sempat diserang baku tembak. Salah satu tembakannya terkena lemari warga yang sampai saat ini masih ada dan disimpan. Waktu itu warga mengungsi di Sepanjang dan Mojokerto sampai serangan tersebut sudah lumayan berkurang.

“Dulu, waktu malam-malam Belanda masuk membawa mobil Jeep dan mencari bekas tentara untuk dibawa. Setiap malamnya selalu ada yang dibawa satu atau dua orang,” ujar Bu Marlika warga Kampung Ketandan yang sudah sangat sepuh.

Di Kampung Ketandan ini juga ada Makam Mbah Buyut Tundo, salah satu orang paling berpengaruh di kampung, yang letaknya ada di belakang Balai Budaya Cak Markeso. Ada juga dua makam prajurit dari Mbah Buyut Tundo yang berada di samping makam itu.

“Harapan saya budayanya makin kentel, meskipun jaman sudah modern tidak meninggalkan budaya ini. Kekompakkan, keramahan, kesopanannya dan kearifan lokal yang pertama saya harapkan tidak pernah luntur. Juga untuk para pemuda agar mempunyai kreatifitas tinggi yang bisa mengalahkan senior-seniornya dan bisa membuat kampung ini lebih indah lagi,” tutup Abdul Gofar. (N/F: Esti Widiyana)