actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»BERITA»Jejak Bangunan Lawas Kediaman Bung Karno
BERITA

Jejak Bangunan Lawas Kediaman Bung Karno

redaksiBy redaksi31 Januari 2020
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Rumah Puing ini diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1930. Dulu merupakan tempat tinggal Mbah Besari, salah satu pahlawan perobekan bendera di Hotel Yamato (Majapahit).

Actasurya.com – Indonesia tak hanya dikenal dari indahnya panorama alam dan keragaman budaya lokal, namun juga banyak tempat bersejarah di nusantara yang tak kalah menarik untuk di telusuri peradabannya.

Seperti halnya Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur ini kerap dikenal dengan sebutan sebagai Kota Pahlawan. Julukan tersebut disandang karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan, dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan penjajah.

Hal ini tak terlepas dari banyaknya peninggalan bekas tempat-tempat bersejarah yang ada di Surabaya. Baru-baru ini ditemukan kembali jejak sejarah lainnya. Ialah kampung masa kecil Bung Karno, Kampung Lawang Seketeng.

Kampung yang terletak di Kelurahan Peneleh, Kota Surabaya dahulu ialah tempat bermain Bung Karno dan Bung Tomo semasa kecil dulu. Tak hanya itu, tokoh yang memiliki kiprah besar bagi sejarah Indonesia ini juga pernah belajar mengaji ditempat ini.

Hafso Mubarok, ketua Surabaya Creative Network (SCN) mengatakan jika barang-barang bersejarah itu bisa ditemui langsung di kampung lawas ini. Seperti sisa-sisa puing meja bundar Bung Tomo, Al-Quran zaman Belanda hingga bangunan-bangunan rumah yang sudah menjadi puing-puing.

“Kampung Lawang Seketeng, kampung yang menjadi tempat tinggal dan bermain seorang Bung Tomo dan Bung Karno saat masa kecil. “

“Ada banyak tempat menarik, dari berbagai objek zaman kerajaan dan perjuangan bangsa Indonesia dahulu. Meski tergolong baru, Lawang Seketeng nantinya akan dipoles dengan berbagai konten berhias mural agar menambah kesan estetik pada setiap gangnya,” kata Hafso.

Ketika awal masuk, terlihat deretan bangunan lawas yang masih kokoh dan terawat baik. Seperti rumah puing, rumah kayu yang terdapat lubang bekas tembakan pesawat tempur. Pun ada Langgar Dukuh Kayu, tempat mengaji Presiden Soekarno dan Bung Tomo saat masih kecil. Bangunan itu, kini menjadi banyak dikunjungi saat ke Kampung Lawang Seketeng.

Banyaknya bangunan kuno inilah, membuat salah satu kampung Lawang Seketeng pernah terpilih menjadi lokasi shooting flim Terbang Menembus Langit yang mengambil suasana di rumah Jengki. Di dalam ruang tersebut, terdapat sumur tua berusia 100 tahun yang airnya dapat diminum secara langsung.

Selain itu ada Terakota, makam Mbah Pitono, makam Mbah Syekh Zen Zaini Assegaf yang merupakan guru ngaji Soekarno dan Bung Tomo saat masih anak-anak, serta hiasan mural artisitik lainnya.

“Langgar Dukur Kayu merupakan primadona utama di Lawang Seketeng”

Tak hanya itu, warga yang tinggal di Lawang Seketeng ini bukan hanya mayoritas Jawa saja. Namun banyak suku dan ras yang mendiami Kampung Lawang Seketeng ini, sejak Indonesia mengumumkan kemerdekaannya.

“Mayoritas bukan Jawa saja, namumun ada etnis Cina dan Madura. Hal itu bisa dilihat, dari adanya tempat kuliner yang menyajikan menu makanan daerah tempat asalnya. Walau begitu, mereka dapat hidup berdampingan hingga kini,” ujarnya.

Sampai saat ini,  bangunan di Kampung Lawang Seketeng masih terawat hingga sekarang. Untuk itu, SCN bekerjasama dengan Pemkot Surabaya berencana akan terus mempercantik kampung lawas ini. Namun tetap mempertahankan kesan vintage bangunan tua.

“Harapannya tempat ini dapat memberikan dampak sosial dan manfaat bagi masyarakat. Sehingga banyak wisatawan yang datang untuk belajar sejarah. Hal itu diharapkan dapat membantu perekonomian warga bisa lebih maju,” pungkas Hafso. (N/F; Mgg)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik

14 November 2025

Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital

5 Juli 2025

Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital

23 Desember 2024

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.